INFO

HAI SEMUA, SELAMAT DATANG DI BLOG SAYA. TOLONG BERI COMMENT BAGI YANG MEMBUKA BLOG INI UNTUK PENILAIAN KOMPUTER SAYA. BAGI YANG MENGCOMMENT BLOG SAYA HARAP MEMBANTU SAYA MEMPROMOSI KAN KE TEMAN2 ANDA. TERIMA KASIH:)

CLOCK

Sabtu, 07 Februari 2015

lirik lagu "SEMPURNA"

  Kau begitu sempurna
 Di mataku kau begitu indah
 Kau membuat diriku akan slalu memujimu

 Di setiap langkahku
 Ku kan slalu memikirkan dirimu
 Tak bisa kubayangkan hidupku tanpa cintamu

 *
 Janganlah kau tinggalkan diriku
 Takkan mampu menghadapi semua
 Hanya bersamamu ku akan bisa

 Reff:
 Kau adalah darahku
 Kau adalah jantungku
 Kau adalah hidupku
 Lengkapi diriku
 Oh sayangku, kau begitu
 Sempurna...........  Sempurna............

 Kau genggam tanganku
 Saat diriku lemah dan terjatuh
 Kau bisikkan kata dan hapus semua sesalku

 Back to *       

Jumat, 06 Februari 2015

LIRIK LAGU: AKU DAN KAMU SATU

Saatnya kata-kata tak perlu diucapkan
Hanyalah mata yang bicara ceritakan rasa
Rasa tak ingin lepas, rasa mau jauh
Bersama dalam suka duka cinta

Aku dan kamu satu di dalam kata cinta
Aku dan kamu utuh takkan terpisahkan
Walau badai menerjang
Bumi terbelah menjadi dua
Tetap hatikan tenang
Terus yakinkan selalu yakinkan
Aku dan kamu satu

Mestinya akan ada datangnya keraguan
Menggoda hati untuk berpaling mencari yang lain
Biasanya dia datang mengajak kita berperang
Tenanglah sayang kita akan menang

Aku dan kamu satu di dalam kata cinta
Aku dan kamu utuh takkan terpisahkan
Walau badai menerjang
Bumi terbelah menjadi dua
Tetap hatikan tenang,
Terus yakinkan selalu yakinkan
Aku dan kamu
Aku dan kamu satu

Selasa, 13 Januari 2015

Indahnya Bunga Mawar Tapi Sakit Pada Durinya

Esok paginya, aku mengajak mereka ke mall yang biasa aku datangi bersama Daniel dan Hengki. Karena mall ini pusat perbelanjaan terlengkap dan terbagus di kota ini. Aku menyuruh lima gadis itu berbelanja sepuas mereka. Aku memberi mereka masing-masing satu ATM yang berisi uang 10 juta. Mereka sangat senang sekali. Aku memberinya waktu 3 jam lebih dari cukup untuk mereka.
Aku segera meninggalkan mereka bersenang-senang. Dari seleksi hari ini, aku ingin tahu pola pikir mereka tentang uang. Bukan berarti aku tidak suka cewek matre. Jadi cewek matre itu wajar tapi jangan terlalu over.
Aku segera menuju ke tempat makan untuk menunggu mereka kembali. Sambil lalu aku menelfon Daniel dan Hengki untuk segera menemaniku. Aku mencari pelayan untuk memesan makanan. Aku terkejut melihat sosok gadis yang sedang makan dengan irama musik di telinganya dengan headset.
Luvy? Kenapa dia tidak belanja? Dia makan dengan santainya. Dia gadis yang unik. Dan paling membuatku terkesan suka, aku melihat sosok Dina pada dirinya. Tapi dia buka Dina yang cerewet dan ceria. Dia Luvy yang manis dan selalu tenang. Aku menghampirinya.
“Hay” kataku menyapanya dengan lembut sambil duduk di kursi pas berhadapan dengannya.
Dia agak kaget dan tak percaya melihatku menghampirinya. Headset yang ada di kedua telinganya dilepas begitu melihatku. Dia tersenyum simpul dan mengatur nafas untuk tidak terlihat gugup di depanku. Aku tertawa ringan dengan sikapnya.
“Ngapain kamu disini?” tanya Luvy dengan lembut.
“Lho, bukannya aku yang harus bertanya begitu? Kamu diberi kesempatan belanja gratis sepuasnya malah enak-enakan duduk disini!” kataku dengan nada bercanda.
“Yeah, emang sayang banget kalau tidak dipakai. Tapi aku bingung mau beli apa! Dari pada pusing sendiri mending makan sendiri” jawabnya sambil tertawa lepas.
Waw, tawa pertama yang mengagumkan yang pertama kali aku lihat. Untung aku masih bisa mengatur ekspresi wajah agar tidak terlalu over menatapnya.
“Kenapa kamu gak beli semua yang ada di pikiran kamu sekarang?” tanyaku ingin tahu lebih pasti.
“Masalahnya aku sedang tidak memikirkan sesuatu yang ingin aku beli. Menurutku, belanja itu kegiatan untuk memenuhi kebutuhan yang dibutuhkan. Untuk sekarang aku tidak memiliki kebutuhan apapun. Dan… nih ATMnya aku kembaliin. Makasih ya” katanya dengan senyum tulus sambil menyodorkan kartu ATMnya padaku. Aku mengambilnya untuk mengecek kembali nanti.
Tak sengaja aku menatap makanan dan minuman yang dipesan Luvy. Stik kentang dan jus mangga? OMG, itu kan makanan dan minuman favorit Dina. Lagi-lagi aku teringat Dina. Gak mungkin Luvy itu Dina!
“Kamu suka stik kentang dan jus mangga?” tanyaku lagi.
“Iya, aku suka makanan yang berbahan kentang dan minuman rasa mangga. Aku paling tidak suka makanan yang berbau bawang dan sayuran”
“Wah, sama dong” kataku menyimpulkan. Maksudku selera Luvy, Dina, dan aku sama.
Obrolan aku dan Luvy terganggu dengan kedatangan duo tengil Daniel dan Hengki. Yang bikin aku semakin kesal dengan sikap mereka yang pura-pura tidak mengerti dengan aba-abaku untuk menyuruhnya pergi, padahal itu pernah aku lakukan saat aku bersama Dina.
3 jam telah berlalu. Gadis-gadis itu kembali dengan tas belanjaan yang banyak. Mereka memberikan kartu ATM nya padaku. Aku mengecek sisa uang lalu aku kembalikan pada mereka semua, termasuk Luvy.
Malamnya, berlanjut pada acara penentuan. Satu nama yang kupilih yaitu “Luvyana maudi”. Aku dan lima gadis makan pada meja yang sama. Lalu aku memberikan amplop yang salah satunya berisi kata I LOVE U dan amplop lain berisi uang lima juta dan tiket pergi ke paris dengan perlengkapan istimewa sebagai tanda maaf.
Aku tenang melihat wajah senang di antara mereka yang aku tolak. Mereka pulang dengan mengucapkan banyak-banyak terimakasih. Aku segera menghampiri Luvy yang berdiri tidak jauh di tempatku berdiri. Aku genggam tangannya mengajaknya ke suatu tempat. Dia menurut saja. Tangannya sangat dingin dan agak gemetaran. Aku tertawa kecil.
Kami tiba di sebuah taman yang begitu banyak bunga mawar dengan bermacam-macam warna. Ada warna merah, putih, kuning, dan ungu. Lampu taman dimana-mana. Semua terkesan sangat romantis.
Luvy tercengang melihat keindahan yang dilihatnya malam ini. Dia mengelilingi taman itu dengan memegang bunga demi bunga yang memiliki warna berbeda. Jika ini mimpi, mungkin ini pertama kali dia bermimpi sangat indah dan tak ingin cepat-cepat bangun.
“Hitunglah setiap mawar dengan warna yang berbeda!”
Luvy menghitung semua bunga itu dengan teliti. Berungkali perhitungannya meleset. Membuat dia semakin pusing karena mengelilingi taman. Empat kali dia mengulang menghitung untuk memastikan. Tetap saja meleset. Aku tertawa melihat tingkah Luvy yang konyol dan lucu.
“Ada 22 mawar merah, 12 mawar putih, 2013 mawar kuning dan 427 mawar ungu! Yang artinya aku menemukan cintaku pada tanggal 22 bulan 12 dan pada tahun 2013. Dari 427 gadis yang datang pada hatiku, hanya kamu yang pantas mengisi hidupku. Dan taman ini aku persembahkan untukmu sebagai bukti cintaku untukmu” kataku memegang kedua tangannya.
“Makasih atas semuanya” ucapnya lalu menunduk malu.
“Luv…”
“Ya?”
“Kamu mau gak jadi pacar aku? Eh maksudku pacar untuk selamanya!” kataku penuh dengan ketulusan yang mendalam.
Luvy mengangguk. Aku meloncat-loncat tak bisa menahan kebahagiaanku yang telah mampu menemukan cinta kedua dan mungkin saja cinta terakhirku. Aku tak peduli Luvy mau tertawa sekeras itu, yang penting dia sudah bisa kumiliki.
Mama sangat senang saat aku memperkenalkan Luvy esoknya. Aku tak lagi memikirkan Dina. Mama dan Luvy mudah akrab. Bahkan mereka selalu membuat rencana belajar masak bareng. Kulihat mama yang selalu menikmati hari-harinya dengan Luvy.
Aku sudah membicarakan tentang rencana melamar Luvy setelah dia wisuda. Luvy selalu membuat aku tertawa, kagum, haru. Bahkan disaat aku ada masalah dengan kedua sahabatku, dia yang membantuku menyelesaikannya. Dia bidadari hatiku.
Mawar yang melambangkan cintaku pada Dina dulu. Tapi sekarang mawar melambangkan cintaku untuk Luvy seorang. Setiap hari aku selalu memberinya tanaman bunga. Sampai-sampai taman bungan di belakang rumahnya penuh dengan bunga mawar yang kuberi.
Dia adalah harapan hidupku. Tidak ada rahasia yang harus kututup-tutupi darinya. Bahkan aku menceritakan semua tentang Dina yang menghilang begitu saja. Tanpa sedikit marah atau kecewa dia mendengarkan dan mencoba mengerti tentang aku dan Dina.
Tiga bulan berlalu begitu indah. Tapi, berubah begitu saja saat aku bertemu dengan Dina di sebuah pameran lukisan. Pada saat itu aku sedang bersama Luvy. Tanpa memperdulikan keberadaan Luvy di sampingku, aku menghampirinya. Walau aku tau Luvy merasa dihina saat itu. Tapi hati memaksaku begitu.
“Dina…” panggilku sedikit gemetar.
“Eza! Hey, gimana kabarmu? hampir tiga tahun kita gak ketemu. Aku kangen sama kamu. Maaf ya, Selama ini aku tak bisa memberi kabar. Selama ini aku ada di Australia, melanjutkan study. Rencananya begitu mendadak, hingga aku lupa bawa alat-alat komunikasi. Jadi aku gak bisa menghubungimu” katanya menjelaskan dengan wajah bersalah.
“Tidak apa-apa”
“Dengan siapa kamu kesini? Aku tiba disini baru tadi malem, jadi belum bisa mampir-mampir ke rumahmu”
“Tadi aku sama…” kataku terhenti mencari Luvy yang menghilang.
“Ya?” tanya Dina tak dengar.
“Eh, Kamu tinggal dimana sekarang?” kataku mengalihkan pembicaraan. Dalam hati aku merasa berdosa pada Luvy.
“Di rumah Om-ku. Aku boleh ke rumahmu sekarang?” tanya dia menawarkan.
“Boleh, boleh banget!” kataku semangat.
Sesampai di rumah, mama sangat kaget melihat Dina bersamaku. Dina berusaha memeluk mama tanda rindu tapi mama malah menyela. Dina selalu bersikap baik, tapi mama sebaliknya. Aku merasa tidak enak sama Dina. Saat Dina ingin pulang, dengan senang hati aku mengantarnya. Lalu kembali ke rumah. Wajah mama tetap sinis padaku.
“Luvy mana? Bukannya dia tadi bersama kamu?” tanya mama kasar.
“Dia pulang duluan, Ma” jawabku berbohong.
Aku mencoba menelfon Luvy, tapi Hp-nya tak pernah aktif. Masa bodoh! Yang kupikirkan sekarang selalu ingin di dekat Dina. Walau terkadang rasa bersalah terus menghantui. Hari-hariku habiskan bersama Dina seorang.
Setiap malam tiba, aku selalu memikirkan Dina dan Luvy. Bahkan aku pernah bermimpi melihat Dina dan Luvy tenggelam. Dan anehnya yang kutolong itu Luvy bukan Dina. Rasa bersalah terus menghantui.
Tujuh hari berlalu dengan cepat. Perasaanku tetap gundah dan bingung. Seringkali aku melamun sendiri. Aku tak sadar bahwa aku rindu Luvy dan senyum mama. Tapi untuk jauh dari Dina aku tak bisa.
Dina pun tau semua tentang aku dan Luvy. Suatu ketika dia mengajakku ketemuan di taman tempat aku dan Dina jadian. Dia menjelaskan apa yang dia dengar dari mama dan teman-temanku tentang Luvy. Berkali-kali aku minta maaf.
“Za, aku ingin kamu tau sesuatu” katanya kemudian.
“Apa?”
“Sebenarnya… selama ini aku sakit Leukimia sudah stadium 3. Aku diajak ayah ke Australi untuk pengobatan. Ada seorang dokter asal indonesia juga, tapi berprofesi dokter disana. Dia masih muda. Dia yang merawat dan memperjuangkanku agar tetap bisa hidup sampai sekarang. Ayah menyuruhku untuk menikah dengannya. Dan akhirnya aku mau. Tiga hari lagi weddingnya. Aku kesini hanya untuk memberitahu ini semua. Jadi, sangat disesalkan jika kamu menyia-nyiakan Luvy. Dia sayang sama kamu.” Penjelasan dari Dina sudah membongkar kebohongannya.
“Aku dilarang menghubungimu. Kamu ingat bunga mawar yang pernah kamu kasih ke aku. Disana, aku merawatnya. Namun disaat aku parah, tanaman itu kering. Hanya tinggal satu bunga yang masih tetap indah. Dan saat aku memetiknya, aku tertusuk durinya yang sangat menyakitkan. Bunga itu sudah mati, begitupun cintaku padamu yang juga sudah mati” katanya mengakhiri lalu pergi begitu saja.
Aku marah. Marah pada diriku sendiri. Kenapa aku egois begini? Aku tak pernah memikirkan perasaan Luvy. Apa yang harus kulakukan sekarang?. luvy pasti sudah sangat kecewa. Maafkan aku Luvy! Tanpa sadar aku menghantam tanaman berduri di dekat kursi yang kududuki. Tanaman itu jatuh ke tanah. Tangan kiriku berdarah, tertusuk beberapa duri mawar itu. Lalu teringat lagi pada Luvy.
Aku mengendarai mobil tanpa tahu arah tujuan. Lalu aku berhenti ke taman mawar yang aku persembahkan untuk Luvy. Aku keluar dan menatap mawar-mawar itu tetap indah. Ternyata Luvy masih merawat taman ini.
Aku menangis mengingat semua yang telah kulakukan pada Luvy. Aku sangat egois. Aku lebih mementingkan Dina yang sudah tidak cinta sama aku. Sedangkan Luvy yang mencintaiku dengan tulus malah aku sia-siakan.
“Waduh, cowok kok cengeng” suara lembut seorang gadis yang sangat kukenal kudengar di belakang tubuhku.
Aku memutar badan ke arah suara itu. Kulihat wajah manis tersenyum padaku. Aku menunduk malu. Aku malu sangat malu. Aku yang menyakitinya menangis sedangkan dia yang disakiti masih bisa tersenyum.
“Maafkan aku!” kataku lirih.
“Tanganmu kenapa?” tanyanya panik memegang tanganku yang berdarah.
“Tertusuk duri mawar!” jawabku.
Dia membalut tanganku dengan sapu tangannya. “sakit?” pertanyaan yang keluar dari mulutnya begitu sangat perhatian.
“Ini tidak seberapa dengan perasaan sakit yang selama ini kamu rasakan karena keegoisanku, Maafkan aku!”
“Iya, aku maafin. Sekarang kamu tau kan? Indahnya bunga mawar tapi sakit pada durinya. Indahnya sebuah cinta. Tapi jika kita lengah, sakit yang kita rasakan. Itu yang sudah kamu rasakan. Aku yakin kamu tidak akan mengulanginya lagi”
“Yeah, maafkan aku?”
“Hmmm, sekali lagi bilang maaf dapet hadiah piring ya!”
Dia selalu bisa membuatku tertawa. Tapi kenapa aku malah membuatnya sakit hati karena keegoisanku. Luvy, gadis yang selama ini aku cari. Dia yang pantas mengisi hari-hariku. Tanpanya aku bagaikan mawar yang tak pernah disiram.
Dia mengantarkanku pulang dengan mengemudikan mobilku. Sesampai di rumah, mama sangat senang melihat kedatang Luvy lagi di rumahku. Mama mengobati tanganku penuh dengan omelan yang tak ada habisnya. Luvy tak berhenti tertawa dengan sikapku yang konyol gara-gara omelan-omelan mama.
Sejak peristiwa itu, aku segera melamar Luvy tanpa menunggu wisudanya. Rencana pernikahan dipercepat. Kejadiaan ini cukup jadi pelajaran untukku agar aku tidak lagi mempermainkannya. Aku sayang LUVY!

Senin, 12 Januari 2015

Senja di Kota Empek Empek

Jam di kamar Abel sudah menunjukkan pukul delapan pagi, namun suasana dingin kota Bandung masih berhasil membuat gadis berlesung pipi ini enggan untuk bangkit dari tempat tidurnya. Beruntung hari ini libur, jadi ia tidak perlu menyiapkan bantal seperti biasanya untuk melindungi telinga dari teriakan mamanya.
Kicauan burung dari atas pohon di samping jendela kamar tidak berhasil membuat gadis ini untuk bangkit dari tempat tidur, ia masih nyaman memeluk boneka Doraemon nya. Sampai akhirnya bunyi Handphone yang dari tadi berdering terpaksa mengharuskan Abel untuk bangkit, dengan nyawa yang belum terkumpul sepenuhnya ia meraih handphone yang tergeletak di meja samping kasurnya.
“Siapa sih pagi-pagi gini udah nelpon”
Dengan mata yang masih setengah terbuka Abel membaca nama yang tertera di layar hapenya “Sherly Calling”. Dengan malas ia menekan tombol hijau dan meletakkan benda itu di telinganya.
“ABEL, lo kemana? kita udah ngumpul nih di rumah Chika, jangan bilang kalo lo masih di tempat tidur”
Teriakan Sherly dari seberang sana berhasil membuat nyawa Abel yang tadi masih setengah kini sepenuhnya sudah terkumpul kembali. Mata Abel terbelalak mencoba menelaah kata-kata Sherly tadi.
“Ngumpul? rumah Chika? astaga gue lupa sher, maaf”
“udah gue tebak, anak-anak udah pada nunggu nih Bel”
“Iya iya, gue mandi dulu ya”
Abel melemparkan Hapenya ke kasur dan langsung berlari ke kamar mandi, dia tidak peduli pada kasurnya yang masih berantakan, yang paling penting sekarang adalah ia harus cepat tiba di rumah Chika agar tidak mendengar omelan sahabat-sahabat tersayangnya.
“Kakak, ada anak-anak di ruang tamu”
Teriakan mama mengagetkan Abel yang sedang asyik di depan meja rias, ia langsung meninggalkan pekerjaannya dan segera turun ke bawah mencari sumber suara.
“Iya ma siapa?”
Tiga cewek cantik sudah duduk mantap di sofa, Sherly dengan kaos biru dan jeans selutut, Chika dengan dress silver selututnya, dan Lisa dengan kaos merah dan jeans panjangnya. Mereka bertiga memberi tatapan membunuh pada Abel yang masih memakai handuk di atas kepalanya, Abel hanya bisa diam, ia seperti seekor kijang yang siap disantap tiga singa kelaparan di hadapannya.
“Loh, kok kalian kesini? bukannya ngumpul di rumah Chika ya”
“Abel, ini udah jam berapa. Dua jam lagi pesawatnya take off, dan lo belum juga siap”
“hehe, maaf yah. tapi gue udah packing kok jadi tinggal Otw aja”
“ya udah buruan, dari rumah lo ke bandara gak deket tau”
“Mama, kakak pergi yah. doain selamet sampe tujuan”
Abel melepas handuk dari kepalanya dan langsung berpamitan dengan mama nya.
“Kita pergi dulu ya tante”
“Iya, hati-hati. Abel nya dijagain ya sher, dia suka ngilang”
“Ih mama apaan sih, ya udah ma kita berangkat dulu. Assalamualaikum “
“Walaikum salam”
Sepertinya jalanan hari ini berpihak pada mereka berempat, perjalanan menuju bandara lancar, tak ada macet, tak ada insiden apapun yang harus memakan waktu mereka.
Suara dari pramugari yang menjelaskan bahwa pesawat siap terbang sudah terdengar, empat sahabat ini tidak sabar untuk sampai ke kota tujuan mereka kali ini, kota kelahiran Chika.
“Palembang, We coming”
Teriakan Abel dan sahabatnya membuat penumpang memandang aneh pada mereka, tetapi mereka tidak peduli, mereka sangat ingin cepat sampai di Palembang, kota yang terkenal dengan makanan empek-empeknya itu.
Empat sahabat ini akan menghabiskan waktu liburan kenaikan kelas mereka di Palembang, kota kelahiran Chika. Abel memang sudah lama ingin berkunjung ke kota yang terkenal dengan jembatan ampera ini, kebetulan sekali Chika menawarkan untuk pergi ke kota ini, Abel langsung menerima tawaran tanpa berpikir lagi waktu itu.
Perjalanan menuju Palembang tidak terlalu banyak memakan waktu, hanya sekitar dua jam mereka berada di dalam burung besi itu dan sekarang mereka sudah tiba di Bandara Sultan Badaruddin II.
“Welcome to Palembang”
Suara baritone yang diyakini Abel berada di belakang dirinya itu menyelusup masuk ke lubang telinga gadis manis ini, menggelitik gendang telinga dengan suara khasnya. Abel menoleh ke belakang, memastikan pemilik suara khas itu, yang terlihat olehnya adalah seorang pria bersama wanita yang diyakini Abel adalah kekasihnya, Abel sangat yakin pemilik suara yang berhasil membuat jantungnya berdetak tadi adalah dia, pria yang sedang bersama wanita lain itu. Pria itu menoleh ke arah Abel, tersenyum manis dan berhasil membuat Abel tak bergerak.
“Woy Bel, lo masih disini aja. Anak-anak udah jalan tu”
“eh iya Lis maaf, ya udah yok jalan”

Jam dinding sudah menunjukkan pukul tujuh malam, Abel masih nyaman dengan dunia mimpinya sejak tiba dari Bandung tadi sementara anak-anak yang lain sudah siap keluar rumah untuk sekedar jalan-jalan melihat kota Palembang di waktu malam.
“Abel, bangun dong. kita mau keluar nih, kamu gak ikut?”
Chika menggoyang-goyang tubuh Abel bermaksud membuat cewek satu ini bangun, tapi usahanya gagal, Abel tidak bergerak sedikitpun, ia masih sibuk mendekap erat boneka Doraemon kesayangannya. Dengan hati dongkol, Chika berteriak tepat di telinga Abel membuat cewek ini merubah posisi tidurnya menjadi berdiri karena kaget.
“Chikaaa, apaan sih ganggu tidur aja. Gue masih capek”
“ya udah kalo gak mau ikut keluar, kita duluan ya”
“keluar? eh iya iya ikut, tunggu bentar gue mau ganti baju”
“Cepet, awas kalo lama”
Jazz biru melesat dengan kecepatan sedang membelah jalanan kota Palembang malam ini, empat sahabat ini teriak kegirangan di dalam mobil, mereka tidak sabar untuk sampai di tempat tujuan. Malam ini mereka akan pergi melihat terangnya jembatan ampera malam hari dan mencoba makanan di Restoran yang mengapung di atas sungai Musi.
“Wih ampera keren ya kalo malem gini”
“Iya bel, kapan-kapan kita kesini lagi ya Chik”
“iya iya, entar kita main lagi kesini. Ya udah yok makan dulu”
Di antara empat anak cewek ini cuma Abel yang makanannya tidak habis, anak-anak aneh karena tidak biasanya Abel tidah menghabiskan makanannya, yang mereka tau Abel adalah anak yang paling banyak makan di antara mereka berempat.
Sayang, aku telah jatuh cinta
Cinta pandang pertama
Cinta di stasiun kereta
Suara musik memenuhi sudut Restoran, Abel yang sedari tadi diam langsung menoleh ke arah panggung, perasaannya tidak salah, orang yang sedang bernyanyi itu adalah pria yang dilihatnya di bandara tadi.
“Baiklah semua, mungkin ada yang mau menyumbangkan sebuah lagu untuk menghibur pengunjung disini. Mbak berbaju biru yang duduk di pojok, mau nyanyi?”
Abel terbelalak saat melihat pria di depan itu menunjuknya, tanpa pikir panjang lagi ia langsung naik ke atas panggung dan langsung meminta pemain band untuk mengiringinya.
Mungkinkah ini bertanda aku jatuh cinta, cintaku yang pertama…
Suara merdu Abel berakhir dengan tepuk tangan semua pengunjung, ia memandang pria tadi dengan perasaan penuh harap, ia berharap akan ada kata-kata indah yang keluar dari mulut pria ini.
“Waw, suaranya lembut sekali. Terima kasih sudah menghibur pengunjung restoran ini”
Abel hanya tersenyum dan segera turun dari panggung, ia takut hatinya akan semakin meleleh jika terus berada di hadapan pria ini. Senyumnya, suaranya, bisa-bisa Abel dibuatnya pingsan di atas panggung.
“Cie, calon penyanyi kita. Baru kali ini denger lo nyanyi Bel, kenapa gak bilang sih kalo bisa nyanyi, jadi kan waktu itu kita gak usah repot-repot nyari orang buat lomba nyanyi antar kelas waktu SMA”
“Yeh, gue aja tadi gak sengaja. Gue juga gak tau kalo gue bisa nyanyi, itu respect tau. Emang suaranya bagus yah? perasaan jelek deh”
“Wah sarap lo Bel, suara sendiri aja gak tau. Udah ah yok pulang, udah malem ni”
Saat Abel hendak masuk ke dalam mobil, tiba-tiba suara yang sudah sangat dikenalnya itu memanggil, ia tidak menghiraukannya, Abel merasa itu hanya perasaannya saja. Tetapi suara itu kembali mengalun, ia menoleh ke belakang, yang benar saja pria tadi sudah ada di hadapannya.
“Mbak, boleh minta nomor Hp nya?”
“Jangan panggil mbak dong, panggil Abel aja ya”
“Oh iya, boleh minta nomor Hp nya Bel?”
“Boleh, 089844xxxxx”
“oh iya, kenalin gue Roni”
Klakson mobil mengganggu percakapan Abel dan Roni, anak-anak sudah mulai kesal menunggu, mereka sudah mengantuk. Akhirnya percakapan yang hanya berlangsung sepuluh menit itu berhenti dengan kata “Sampai bertemu lagi”.

From : 082176xxxxxx
GMorning Abel, masih di tempat tidur kah?
Abel terbangun ketika mendengar suara hapenya, dengan mata yang masih mengantuk ia mengambil hape dan membuka pesan yang sudah menghancurkan mimpi indahnya tadi.
“Siapa sih ganggu aja, ga ada namanya, mungkin fans gue kali ya”
Setelah membuka pesan dari seseorang yang tidak dikenalnya itu, Abel kembali memejamkan mata berharap mimpinya tadi berlanjut. Beberapa detik kemudian ia kembali pada posisi duduk saat ingat pria yang ditemuinya di bandara dan di restoran semalam.
To : 082176xxxxxx
Morning too, hehe iya ni tau aja
Ini Roni bukan?
Abel menekan tombol send dengan ragu, ia takut dugaannya salah. Sudah dua puluh menit ia mengirim tapi belum juga ada balasan dari orang itu, akhirnya Abel memutuskan untuk kembali pada dunia mimpinya, tidak peduli jam sudah menunjukkan pukul setengah delapan pagi. Baru saja gadis berlesung pipi ini akan tidur, hapenya kembali berdering tapi kali ini bukan sms melainkan panggilan telepon dari orang tadi.
“Halo, ini siapa?”
“Roni Bel, kamu lupa?”
“Oh iya maaf Ron, maklum penggemar ku banyak”
Abel tidak menyangka, seorang Roni sekaligus cowok yang buat dia jatuh cinta waktu pertama kali napakin kaki di Kota Palembang ini meneleponnya, ia kegirangan bukan main. Obrolan terus berlanjut sampai akhirnya Roni mengajak Abel untuk berkeliling Kota Palembang hari ini, Roni tau kalau Abel sedang berlibur disini jadi dengan senang hati ia mau menemani.
“Oh rumahnya disana, ya udah nanti jam sebelas aku jemput ya”
“Iya iya, kalau gitu aku siap siap dulu. bye!”
Dengan hati yang masih dipenuhi perasaan berbunga Abel langsung bergegas mandi dan bersiap untuk kencan, ya Abel lebih senang menyebut jalan-jalan hari ini dengan kata “Kencan”.
“Mau kemana bu? tumbenan jam segini udah bangkit dari tempat semedi, biasanya kan jam segini lo masih di atas kasur”
Suara cempreng Lisa mengagetkan Abel yang sedang di depan kaca, ia tak peduli pada perkataan Lisa, ia melanjutkan kegiatan merias dirinya, sementara Lisa yang tadi berada di depan pintu langsung masuk mendekati Abel.
“Chika hari ini ngajak ke BKB Bel, mau ikut nggak?”
“Nggak Lis, gue mau pergi”
“Kemana? lo kan nggak tau jalan sini”
“Mau Kencan”
“Sama siapa? jangan ngomong cowok yang semalem”
Abel hanya tertawa dan langsung berlari keluar kamar karena Chika sudah teriak teriak memanggil dirinya untuk memberitahu bahwa ada orang yang mencarinya di luar. Dengan cekatan ia langsung membuka pintu dan dilihatnya seorang cowok memakai kemeja Biru di depannya, maching dengan sepatu kets yang menempel di kakinya.
“Bye, gue jalan dulu ya. jangan kangen”
Lirikan mata Abel membuat tiga sahabatnya itu hanya bisa diam, mereka tidak menyangka pada pemandangan yang mereka lihat di depannya. Baru saja tiga hari mereka disini tapi Abel sudah berhasil menggaet seorang cowok yang tampilannya tidak biasa.
Di antara mereka bertiga memang Abel lah yang paling mudah mendapatkan cowok, padahal jika dibandingkan dengan anak yang lain Abel tidak terlalu cantik, hanya saja ketika mereka mengadakan survey dengan mantan-mantannya, mereka semua bilang kalau Abel itu punya daya tarik sendiri, selain senyumnya dia juga punya mata yang bisa membuat setiap cowok menaruh hati jika bertemu dengannya.
Abel semakin betah di Palembang, ia tidak mau kembali ke Bandung lagi, ia sudah sangat nyaman di kota ini, kota yang sudah mengenalkan ia pada sosok Roni, orang yang sekarang sangat dia sayang walau belum dengan status yang jelas.
Lagu ini ku nyanyikan untuknya
Bukan hanya sekedar lagu cinta
Karna ku tak hanya cinta biasa, cintaku istimewa
Alunan suara merdu diiringi petikan gitar selalu mengalun untuk Abel dari seorang Roni, pria satu ini selalu bisa membuat Abel merasa menjadi seorang ratu jika bersama dengannya.
“Cie Abel, merah tu mukanya”
Sherly mendapati Abel yang sedang memperhatikan Roni di atas panggung, wajah Abel berubah menjadi merah merona, apalagi sebelum bernyanyi Roni bilang lagu itu untuk orang yang spesial.
“Ngedip dong Bel, serius amat ngeliatnya”
“Apaan sih, tambah merah ni muka gue”

Terpaan angin di pinggir Musi menerbangkan rambut panjang Abel yang dibiarkannya terurai, Roni sengaja mengajak Abel jalan sore ini, kebetulan nanti malam adalah malam minggu jadi tempat ini ramai oleh anak-anak muda yang akan menikmati malam minggu mereka.
“Abel”
“Iyar Ron, kenapa?”
Roni menyodorkan sebuah undangan berwarna biru muda pada Abel, dengan wajah yang setengah tertutup oleh rambut, gadis di samping Roni itu menerimanya.
“undangan buat aku?”
Roni tak menjawab pertanyaan Abel, ia melemparkan pandangannya lurus ke depan memandangi kapal yang sedang mengapung di atas sungai. Dengan mimik wajah yang menunjukkan kebingungan, Abel perlahan membuka undangan yang sudah ada di genggamannya. Undangan itu jatuh, mata Abel memerah dan sejurus kemudian anak sungai mulai terbentuk di wajah halus gadis ini, kebahagiaan sore ini seketika hilang.
“Kamu gak bohong kan Ron?”
Roni tetap tak bergeming, ia masih memandangi kapal dengan tatapan kosong. Ia bahkan tidak menyadari bahwa gadis di sampingnya ini sedang meneteskan air mata.
“Bukannya kamu bilang cewek waktu itu saudara kamu, kamu udah bohong sama aku Ron!”
“Maaf Bel, aku bisa ngejelasin semuanya”
“Udah, nggak ada yang perlu dijelasin. Undangan ini udah cukup buat ngebuktiin kalo kamu mainin aku”
Nada suara Abel meninggi, Air matanya semakin deras, ia langsung berlari meninggalkan Roni sendiri, ia tidak peduli pada orang-orang di sekitar yang memandanginya. Roni tak bisa lagi mengejar Abel yang sudah berada di dalam taksi, Ia harus pulang ke rumah sekarang, lalu kembali ke Bandung secepatnya, hanya itu yang ada di pikiran gadis ini.
Anak-anak sedang berkumpul di ruang tengah, Abel yang menyadari matanya bengkak langsung masuk ke dalam kamar tanpa menyapa sahabatnya. Mereka yang merasa aneh pada sikap Abel langsung menyusul ke kamar, Abel memalingkan wajahnya saat tau anak-anak masuk ke kamar.
“Are you fine baby?’
“Lo kenapa Bel? cerita dong sama kita”
“Gue mau balik ke Bandung besok, terserah kalian mau ikut apa nggak”
Abel menceritakan semuanya, akhirnya anak-anak pun sepakat untuk pulang ke Bandung besok. Mereka semua kasihan pada Abel, tidak pernah sekalipun ia menangis seperti ini kecuali saat Papa nya meninggal.

Suasana sejuk kota Bandung kembali menenangkan pikiran Abel, ia sudah sedikit lupa pada kejadian beberapa bulan lalu itu. bayangan Roni pun sedikit demi sedikit mulai menghilang, ia sudah memutuskan untuk tidak membuka hatinya dulu untuk siapapun. Kenangan di Kota empek-empek itu sudah cukup membuatnya menangis berhari hari.
Setelah beberapa bulan libur semester dan membuat libur sendiri akhirnya Abel kembali masuk kuliah lagi sebagai seorang Mahasiswi jurusan ekonomi S2 semester akhir, ia ingin cepat-cepat menyelesaikan kuliahnya dan menyandang gelar Master Management.
Dengan mengenakan kaos hijau muda dibalut cardigan putih miliknya, Abel duduk di bawah pohon di taman kampus sambil menikmati minuman kaleng dan beberapa snack yang tadi dibelinya. Gadis manis ini memperhatikan deretan nama yang masuk dalam inbox emailnya lalu matanya tertuju pada satu nama, ia mengklik dan mulai membaca isi pesannya.
From : Roniwahyu20@yahoo.co.id
Abel, sang pemilik senyum manis yang menangis di pinggir Musi senja itu. aku benar-benar minta maaf karena telah membohongimu, sebenarnya banyak yang ingin ku jelaskan tapi kamu sudah terlanjur menghilang dari hadapanku senja itu. asal kamu tau bel, gadis yang akan menikah denganku itu bukan pilihanku, mama yang memilihkannya jadi aku tak bisa menolak. Aku sudah menjatuhkan hatiku padamu sejak pertemuan di bandara waktu itu, aku mencintaimu bel sungguh, Aku harap kamu bisa datang ke pernikahanku nanti. Aku akan sangat bahagia seandainya kamu datang bel!
Pesan yang sepertinya dikirim Roni beberapa bulan lalu itu membuat Abel kembali mengingat kejadian di senja sungai Musi kala itu, ia tersenyum lalu mulai mengetikkan sesuatu di layar laptopnya.
To : Roniwahyu20@yahoo.co.id
Sudahlah Ron tidak perlu disesali, aku sudah memaafkanmu. Maaf aku tidak bisa datang waktu itu karena aku masih ada urusan yang harus aku selesaikan, aku mohon cintai istrimu seperti kamu mencintaiku. Aku ingin kalian menjadi keluarga yang bahagia, rencananya jika kuliahku sudah selesai nanti aku akan berlibur lagi ke Palembang dan aku akan mengunjungi kalian. Maaf baru bisa membalas sekarang, titip salam ya buat istrimu.

Lubang Kecil Kita

“aku nggak akan membiarkan diriku sendiri masuk ke dalam lubang yang sama, yaitu kamu”
ya, hanya itu yang bisa aku katakan pada diriku sendiri saat mendengar nama itu kembali di kehidupanku. entah kenapa, semua rasa itu kembali. rasa kecewa, kesal, marah, bahagia, cinta, dan semua perasaan yang baru aku rasakan setelah aku mengenalnya. setelah aku jatuh. ya, jatuh cinta. entah memang cinta atau hanya sebatas suka. yang jelas aku sudah jatuh, jatuh dalam lubang yang memberikan aku kebahagiaan. jatuh dalam lubang yang berisi begitu banyak hal-hal indah disana. tapi lubang itu terlalu dalam. lubang itu terlalu jauh dari aku kira. hingga aku tak bisa keluar. hingga aku terjebak disana. di dalam lubang itu, sendiri, dalam kesunyian. lubang yang seharusnya diisi oleh 2 orang, hanya tersisa aku disini. dalam kesendirian yang menyiksaku. sendiri, ditinggalkannya dengan semua kenangan indah yang pernah kita lalui berdua di lubang ini.
Pagi datang lagi. ini tahun keempat aku bekerja di perusahaan ini, perusahaan yang memberikanku begitu banyak pengalaman. di tempat ini juga aku bisa memperoleh sedan mewah dah rumah dinas yang perusahaan berikan padaku. tapi ini semua tidaklah penting, karena bagaimanapun hatiku kosong. aku ingat saat-saat itu. saat aku diam dan memperhatikan mereka, keluarga besarku. keluarga besar bernama Panti asuhan Cahaya. ya, Cahaya, itulah nama ku. anak yatim piatu pertama di panti asuhan ini. anak yang memberikan cahaya pada seorang janda penjual kue yang hidup sendirian. yang ditemukan di bawah pohon taman kota saat berjualan kue. cahaya, itulah nama yang beliau berikan. sederhana, manis, tapi banyak makna. karena sejak saat itu. ibu dewi memperoleh banyak rezeki, kue yang biasa dijual laku keras bahkan salah satu toko ternama di kota itu selalu memesan kue-kue buatan ibu dewi. 6 tahun semenjak ibu dewi mengurusku, beliau bisa membeli rumah yang lebih dari sederhana untuk kami berdua, saat itu pula panti asuhan ini didirikan. tempat dimana aku bertemu denganmu.
Aku masih ingat air mata itu, air mata yang tak kunjung habis walau entah sudah berapa tetes yang aku keluarkan. mungkin ratusan, ribuan air mata. tapi itu tak bisa menghapus lukaku. saat melihat ibu dewi terbujur kaku terbungkus kain putin bernama kafan. saat melihat tubuhnya sedikit demi sedikit menghilang di bawah timbunan tanah. entah apa lagi yang terjadi aku tak ingat. karena setelah itu aku sudah berada di dalam kamarku dengan keadaan mata yang begitu bengkak hingga sulit untukku membukanya.
Aku memang bukan anak yang ceria, bahkan tekesan cuek dan galak. karena sifatku itu aku tak pernah punya banyak teman. dan orang yang bisa melihat kebaikan dan kehangatan dalam diriku hanya ibu dewi, dan kamu.
Ya. kamu memberi kebahagiaan buat aku. kamu menghapus semua lukaku. kamu mengisi semua kesendirianku. kamu yang tau apa yang aku suka dan apa yang aku benci tanpa aku beri tau. kamu yang tau semua kekesalanku, semua perasaan yang hanya aku simpan sendiri. namaku memang cahaya, tapi saat itu yang benar-benar menjadi cahaya adalah kau dan semua kehangatanmu.
Semua begitu menyenangkan. karena kamu hatiku yang dingin menghangat, dan sifatku yang keras melembut. saat umurku 17 tahun, saat itulah aku menyadari, kalau aku benar-benar mencintaimu. dan disaat itu pula, kamu pergi, meninggalkanku, dan semua kebahagiaan yang kamu berikan padaku.

“Aya!” seketika langkahku terhenti. jantungku berdegub sangat kencang hingga mungkin dapat terdengar oleh orang-orang di sekelilingku. nafasku seolah tercekat. sudah hampir 10 tahun aku tidak mendengar suara itu. suara yang selalu terdengar hangat.
“hey, aya!” suara itu semakin mendekat, ditambah dengan suara langkah kaki yang dipercepat. aku ingin menoleh, dan memastikan apakah suara itu milik orang yang selama ini hilang dari hidupku. tapi tubuhku tetap terpaku. paru-paruku pun ikut gugup dengan menunjukkan gejalanya, yaitu sesak nafas.
Langkah kakinya semakin dekat. begitu pula dengan detak jantungku yang semakin keras. “dia memanggil nama ku” kalimat itu berkali-kali aku ucapkan, hingga entah sejak dari kapan dia sudah ada di depanku. mata itu, senyum itu, adi! bersama hadirnya turut semua kesedihan yang sudah 10 tahun ini aku lupakan.
Kami berdua sama-sama membisu, menatap lekat wajah masing masing.
“aya, a..” plaakkk…
Tak sempat dia lanjutkan tanganku sudah mendarat keras di pipinya. aku tak bisa menyembunyikan muka pucatku, hingga aku cepat-cepat masuk ke dalam kantor dan membiarkan dia sendiri membisu kaget mendapat tamparanku.
Tiba-tiba ada sms baru yang nomernya tidak kukenal.
“makasih aya, kamu masih mau menyentuhku. aku pikir kamu sudah jijik denganku”
Deg.. “kenapa respon dia malah kayak gitu sih, nyebelin banget. pergi aja sana jauh dari hidup gue. bikin sepet mata aja lo”
Tapi dia memang sama sekali tidak berubah, masih hangat sama seperti dulu. akupun tak melihat sedikitpun kemarahan di wajahnya saat aku menamparnya tadi.
Selesei bekerja aku langsung menuju sedanku. sekali lagi, dia berhasil membuatku pucat pasi. dia datang dengan mengendarai sepeda warna biru. kendaran favorit kami berdua.
“aku tau kamu nggak suka menaiki sedan itu, ayo! aku antar pulang”
Entah terhipnotis atau apa, aku menuruti keinginannya. menaiki sepeda itu dan dibonceng olehnya.
“kenapa kamu kembali?” pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulutku tanpa aku sadari. sejenak ku tau dia kaget mendengar pertanyaanku karna tiba-tiba sepedanya dia rem tanpa sebab.
“karena aku ingin mengembalikan kebahagiaanmu yang pernah aku ambil 10 tahun yang lalu”
deg, darahku seakan berdesir, dan seketika semua rasa yang sudah aku lupakan kembali. kehangatan itu kembali kurasakan, hingga tak terasa air mataku bisa keluar kembali. air yang selama ini membeku dan tak pernah keluar lagi dari mataku, sekarang mulai mencair karena kehangatannya.
Adi yang tau aku menangis seketika menghentikan kegiatannya mengayuh sepeda.
“kau kenapa?” pertanyaan itu tak bisa ku jawab. aku malah terus melanjutkan tangisanku bahkan semakin keras.
“hey, aya! kau kenapa? maafin aku ya!” nada paniknya dapat aku dengar.
“ke.. kena.. kenapa.. kamu per..gi di? a.. aku ben..ci ba..nget sama kamu! ka..kamu te.ga ninggalin a..aku sendi..ri” tetap dengan menangis, aku tumpahkan semua kekesalanku hari ini, di depannya. dia tau bahwa kebahagiaanku adalah dia. jika dia ingin mengembalikan kebahagiaanku, itu berarti dia ingin kembali padaku.
“aku mendapat beasiswa untuk kuliah di perguruan tinggi di Autralia aya, aku tidak bisa bilang padamu, karena hal yang paling tak kusukai di dunia ini adalah melihatmu menangis” dia berbicara sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam, tapi semua itu tidak bisa menyembunyikan ketakutan di wajahnya. semua gerak badannya dan ekspresi wajahnya benar-benar menunjukkan bahwa dia sangat tertekan saat ini.
“aku benar-benar takut saat aku kembali kamu sudah menjadi milik orang lain. tapi aku senang sekali, karena kamu tidak pernah menjalin hubungan dengan siapapun setelah kepergianmu” refleks dia langsung memelukku, aku masih mematung saat itu. semua ini benar-benar membuatku shock.
“aya! will you marry me?” sekali lagi wajahku memucat, air mata yang sedari tadi keluar seketika terhenti. pertanyaan itu yang sejak dulu ingin kudengar darinya, kini secara langsung diucapkannya.
Aku tetap mematung, wajahku mungkin sudah menyiratkan ekspresi seperti seseorang yang akan menemui ajalnya, hingga dia kembali mengulang pertanyaannya, kali ini dengan tatapan tajam mengarah ke arahku.
“aya, maukah kau menikah denganku?”
“yes”
Ternyata lubang itu selama itu tidak kutempati sendiri. dia juga ada disana, di dalam lubang itu bersamaku. hanya saja aku tak bisa melihatnya dengan jelas. tapi yang pasti, lubang ini tak sunyi lagi. karena mulai hari ini, kami berdua akan kembali mengisi lubang ini dengan kebahagiaan berdua.

Teman Atau Kekasih?

“aku sayang kamu, ku mohon kau selalu ada untukku. Dan Kau tak boleh mencintai gadis lain selain aku tapi maaf aku tak bisa menjadi milikmu” kalimat egois yang pernah aku lontarkan kepada pria yang kucintai namun tak ingin kumiliki jika hanya sebatas kekasih.
Aku menyayanginya tapi aku tak mau berkomitmen dengan menjalin hubungan layaknya pasangan kekasih yang saling menyayangi dan terikat kata memiliki.
Tapi aku tak rela jika dia mencintai dan memperhatikan gadis lain selain aku memang itu keegoisanku dan aku mengakui itu.
Saat jam pulang di depan pintu kelas tiba-tiba saja tangan bagas menarik dan memberhentikan langkah kakiku yang sedang berjalan untuk pulang. Tanpa basa basi bagas mengatakan perasaannya padaku.
“aku mencintaimu rina dan aku ingin kau menjadi kekasihku” kata-kata seperti ini yang memang ku harapkan keluar dari mulutnya. Dan sekarang aku mendengarnya langsung dari mulutnya. Tapi entah kenapa aku menjadi takut setelah mendengar kata-kata itu. Tuhan. Aku mencintainya tapi aku takut aku tak bisa menjadi apa yang ia harapkan aku takut jika cinta ini menjadi benci bagi kami.
“maaf aku tak bisa menjadi milikmu” jawabku
“kenapa?” Matanya menatap mataku penuh tanya
“sebenarnya aku juga mencintaimu, tapi maaf aku tak bisa menjadi milikmu”
“alasannya apa?”
“maaf” satu kata yang kutinggalkan untuknya. Aku pergi berlari meninggalkan pria itu bersama rasa takut dan kecewa atas diriku.
Malam itu rasanya sepi sekali.
Aku berada di tempat belajarku. Tapi bukan untuk belajar melainkan untuk mencurahkan perasaan hatiku saat ini pada buku mungil yang setia mendengar suara hatiku setiap hari.
“dear deary”
hari ini harusnya menjadi hari yang membahagiakan untukku. Karena seseorang yang aku cintai ternyata mempunyai perasaan yang sama denganku. Tapi ternyata tak seperti yang aku bayangkan. Aku malah membuatnya kecewa.”
rasa bete pun menyelimutiku.
Ku tengok ponselku, tak ada dari nya menghubungiku. Aku membuka facebook dan hatiku sakit ketika melihat dia update status di akun nya.
bagas adi:
“mungkin aku harus move on”
oh. Tuhan hati ini seperti patah beribu-ribu keping ketika mengetahui dia akan melupakanku, apa yang harus aku lakukan tuhan?
“selamat malam bagas”
Aku mengirimkan pesan singkat untuknya
ku tunggu balasan darinya tapi tak kunjung ponsel ku berdering pesan masuk.
Mungkin dia marah dan tak mau berteman lagi denganku.
Mataku sudah tak kuat menunggu dan aku pun tertidur di meja belajarku.
Suasana di kelas saat istirahat pun menjadi sepi. Biasanya tiap istirahat dia mendekatiku. tapi, setelah aku menolaknya ia hanya diam di tempat duduknya yang berada di depan sebelah kanan tempat dudukku.
Aku hanya termangu melihatnya dan penuh harap ia menghampiriku.
Tapi ia justru asyik memainkan ponselnya entah apa yang sedang ia lakukan menggunakan ponselnya itu. Yang membuatku tambah kacau kenapa semalam ia tak membalas pesan singkat ku?.
Aku berjalan mendekatinya dengan harapan bisa memperbaiki pertemananku dengannya
“hai” sapaku ke bagas
“hai juga”
“boleh aku duduk di sebelahmu?”
“silahkan”
“bagas?” aku memanggilnya dengan suara lirih
“iya. Ada apa rin?”
“kamu marah ya sama aku?”
“enggak kok”
“trus kenapa kamu berubah? Nggak kayak biasanya. Pesan ku semalam juga nggak di balas”
“biasa aja kok. Maaf semalam aku udah tidur jadi nggak balas sms kamu”
“oh gitu”
“iya”
Dia pun asyik kembali dengan ponselnya.
“lagi apa sih? Kok kayaknya asyik banget?”
“hehe, lagi chatingan ni”
“sama siapa?”
“ada deh. Mau tau aja nih”
“gas, aku pengen ngomong nih”
“ngomong aja rin” ia lalu memasukkan ponselnya ke saku
“aku sayang kamu, ku mohon kamu selalu ada untuk aku dan kamu tak boleh mencintai gadis lain selain aku tapi…”
“tapi apa rin?”
“tapi aku tak bisa menjadi milikmu?”
“baiklah aku mengerti perasaanmu tapi aku juga tak bisa sepenuhnya mengabulkan permintaanmu”
“aku pengen lebih dari teman untuk mu tapi bukan kekasih mungkin lebih tepatnya teman tapi mesra”
“tapi aku nggak bisa rin. Teman ya tetap teman nggak ada yang namanya teman tapi mesra. Sekarang kamu pilih salah satu teman atau kekasih?”
aku hanya diam menatap mata bagas dengan penuh harap ia mengerti dan mau mengabulkan permintaanku.
“ayolah rin jawab”
“ttm”
“nggak ada istilah ttm. Teman ya teman kok.”
“taulah”
“ya sudah kalau begitu”
Bagas pun berlalu keluar kelas meninggalkanku sendiri bersama ke delima’anku. Entah apa yang harus ku pilih.
Teet… teet… teet…
Bel masuk pun telah berbunyi anak-anak masuk ke kelas termasuk bagas.
Aku melemparkan kertas bertuliskan “teman” ke mejanya.
Dibaca tulisan dalam kertas itu dan hanya dibalasnya dengan senyuman.
Entah sadar atau tidak aku menulisnya tanpa berfikir panjang.
Dua minggu setelah penolakan itu aku mendengar bahwa bagas sudah mempunyai kekasih yakni reta anak kelas sebelah. Saat pulang sekolah aku melihat mereka jalan bareng bergandengan tangan dan sungguh bagas telah menancapkan kayu besar ke hatiku rasanya sakit sekali. “Terima kasih gas udah bikin aku ngerasain rasa nyesek ini”

Rahasia Ku dan Langit Mendung.

Duduk terdiam di lantai teras rumah ku sembari memandang langit senja yang ketika itu ditutupi oleh awan hitam. Bagi ku senja telah kehilangan nyawanya ketika Mendung datang menyelimuti langit di sore hari. Mata ku tertuju pada tetesan air yang satu demi satu turun membasahi bumi, sesekali tetesan itu memercikan sebagian airnya ke wajah ku, seketika aku tersadar hujan telah turun menemani langit mendung. Aku masih tetap saja duduk menatap langit yang tampak buram, dan tak jarang aku mengulurkan tangan menampung tetesan air hujan sembari memainkannya.
Di keramaian rintik hujan yang turun mengingatkan ku akan rahasia-rahasia di balik luka yang ku sembunyikan. Sebenarnya aku tak mau mengingat luka itu, Namun setiap kali Mendung hadir diiringi turunnya hujan aku tak pernah berhenti bertanya.
“Apakah kau tau jika aku terluka?”
“Atau… Apakah kau telah benar-benar lupa akan diri ku?”
Itu hanya sebagian dari pertanyaan-pertanyaan yang ada dalam benak ku, dari sekian banyak pertanyaan ku tak ada satu pun pertanyaan yang aku temukan jawabannya.
Aku benci mendung karena mendung mendatangkan hujan, keadaan yang demikian membuat ku merasa sepi seorang diri, dimana segala aktifitas ku di luar terhenti karena hujan dan semua itu berawal karena mendung. Akhirnya aku hanya memikirkan masalah ku sendiri, kesibukan yang lain terabaikan oleh ku. Masalah luka ini selalu menjuarai dari sekian banyak masalah yang ada dalam diri ku dan tak heran jika aku larut dalam luka itu ketika aku merasa seorang diri.
Hati ku pernah terluka tepatnya 2 tahun lalu, bukan untuk yang pertama kalinya melainkan itu yang kesekian kalinya, tapi luka itu merupakan kali pertamanya aku merasakan sakit yang teramat perih dari luka ku yang sebelumnya, waktu 2 tahun tak mampu membuat ku lupa akan kenangan bersamanya dan rasa sakit yang ia berikan pada ku, aku tak berharap lebih untuk dapat melupakan semua kenangan dan rasa sakit itu sepenuhnya dalam waktu sekejap, setidaknya untuk beberapa waktu saja, sampai rasa sakit hati ku itu hilang. Namun, rasanya semua itu mustahil terjadi, buktinya 2 tahun lebih waktu telah berlalu akan tetapi semua tetap sama, semua hal tentang rasa sakit itu masih saja sesukanya menghantui fikiran ku. Aku bingung harus berbuat apa untuk dapat mengatasi rasa sakit itu. Segala usaha telah aku lakukan, Namun asa ku tetap tak mampu, yang aku dapat hasilnya tetap saja nihil.
Hemmm… Tak ada yang dapat aku salahkan dalam hal ini, kalaupun ada itu hanyalah aku seorang. Akulah yang salah mengapa terlalu menaruh harap lebih terhadap rasa ku dan rasanya yang tak pernah satu rasa. Mungkin itu lah sebabnya Tuhan menciptakan sebuah perpisahan, karena perpisahan terjadi sudah pasti ada pertemuan, dan itu salah satu cara Tuhan mengajarkan insan-Nya menjadi lebih baik lagi. Dan di balik luka ini pasti ada hikmah yang diajarkan Tuhan kepada diri ku. Itulah sebabnya mengapa aku sangat membenci mendung, karena ketika itu aku selalu teringat akan masalah luka yang amat sangat sulit untuk disembuhkan.
Tubuh ku gemetar seketika aku tersadar aku telah kedinginan, entah telah berapa menit aku habiskan selama duduk di lantai teras rumah ku sore itu. Tuhan telah menyadarkan ku betapa egoisnya aku yang terlalu larut akan masa lalu, bukankah masih banyak hal yang harusnya aku fikirkan, yang lebih penting dari pada hal itu, alangkah meruginya diriku telah menghabiskan waktu untuk memikirkan orang yang belum tentu memikirkan ku. Bodoh… aku terlalu naïf untuk mengakui kebodohan ku, lagi-lagi Tuhan menyadarkan aku bahwa mendung dan hujan itu tak layak untuk dibenci, melainkan untuk disyukuri sebagai anugerah dari-Nya. Sejak saat itu dengan penuh kesadaran dan keyakinan aku bertekat untuk tidak membenci mendung dan tidak mengungkit luka itu lagi, biarlah luka itu menjadi rahasia yang akan berubah menjadi cerita di kemudian hari.
Semua luka ini memang sulit ku terima tapi kini hanya ada satu permasalahan saja, Bukan aku tak sanggup namun hanya aku belum sanggup menerimanya. Tentang rasa sakit ini biarlah waktu yang menyembuhannya, bukan karena bantuannya, mereka, atau siapapun. Karena waktulah yang akan lebih baik menyembuhkan ku. Aku seperti mendapatkan hidayah. Lega rasanya, tak ada rasa benci dan rasa sakit hati, Semua perasaan itu hilang seketika. Kemudian aku beranjak dari tempat aku duduk dan bergegas melangkah masuk ke dalam rumah.

Cinta itu Memberi, Bukan Meminta

“aku sayang sama kamu. Tolong jangan sering marah-marah ke aku, aku takut…” ucap laki-laki bermata sipit ini lirih sambil menatapku. tatapan mata itu. hening, redup, berbinar, aku seperti menemukan kebahagiaan di dalamnya. aku hanya membalasnya dengan senyum, senyuman bahagia. Namanya Dika.
“aku…” aku tak mampu meneruskan kata-kataku, malu. mungkin dia mengerti dengan senyumku ini.
“udah sore, pulang yu. aku takut entar kamu kesorean nyampe rumahnya. kan nggak baik kalau cewek pulang sore-sore” sambil berdiri, Dika menunggu aku menjawab ajakannya itu. aku pun ikut berdiri, berjalan berdua dengannya sampai tempat parkiran. dia mengambil sepedanya dan aku berjalan menuju gerbang sekolah sekaligus menunggu angkutan kota.
“Aku pulang duluan ya sayang” suara Dika mengagetkanku, ketika akan menjawab, dia sudah melesat jauh dengan sepedanya itu. Hari ini aku menghabiskan waktu dengannya sejak pulang sekolah tadi.
Aku dan Dika sudah berpacaran sebulan lebih. Tepatnya pada tanggal 27 November 2013. Selama sebulan ini aku selalu berbagi canda dan tawa, sedi dan senang. Bercerita tentang Dika, tentang keluarganya, bahkan tentang masalalunya. Begitu pun sebaliknya. Aku sangat menyayanginya. Dika sosok yang sangat aku kagumi. Dika kakak kelas di sekolahku, perkenalanku dengannya terjadi tidak di sengaja. Kita tidak sengaja bertemu pas jam pulang sekolah. Saat itu aku sedang mengerjakan tugas bersama ketiga sahabatku, dan waktu itu ada tugas yang sama sekali tidak kami mengerti. Dan secara tidak sengaja aku melihatnya yang tengah duduk sendiri tak jauh dari tempat kami yang sedang mengerjakan tugas. Aku mencoba menghampirinya, berniat untuk meminta bantuan kepadanya. aku menyukainya pada pandangan pertama. kita Semakin dekat, bahkan sangat dekat. jauh sebelelum aku bertemu dengannya, aku sudah mengenalnya lewat mimpi dan doa-doaku selama ini. dia adalah jawaban dari doa-ku. Awalnya aku bertanya untuk apa kita dipertemukan? Jawabannya takdir. Yaa takdir. Takdir yang membawa aku ke tempat itu, tempat dimana Dika tengah sendiri dan aku rasa Dika membutuhkan seseorang. Perlahan-lahan aku mendekatinya, ingin mengenalnya lebih jauh lagi. Awalnya Dika menolak, cuek, dan acuh tak acuh. Namun pada akhirnya takdir pula lah yang menyatukan aku dan Dika seperti sekarang ini. Aku bahagia dengannya, sangat bahagia.
From: Sipit
Aku pengen ngomong sesuatu. Pulang sekolah aku tunggu kamu di deket post satpam.
Pesan singkat darinya masuk ke handphone ku. aku membacanya. aneh pikirku dalam hati. kenapa mau ngomong aja harus bilang dulu? aku merasakan ada sesuatu yang tidak beres. Sepulang sekolah ku pun segera bergegas menuju post satpam. Dia tengah berdiri sana, seperti gelisah menungguku. Mungkin dia sudah lama menunggu.
“mau ngomong apasih?” kataku sambil menghampirinya yang sedang berdiri di dekat post satpam.
“Sini duduk” balasnya sambil membersihkan teras di depan post satpam itu. aku menurut, aku duduk di sampingnya. Jarak antara kami jauh, aku tak ingin duduk dekat dengannya. Karena takut jika ada guru ataupun murid yang lain, bisa menimbulkan fitnah.
“aku tau saat kamu perhatian padaku, kamu pun ingin diperhatikan. aku tau saat kamu menunggu lamanya diriku, kamu pun mau aku melihat perjuanganmu. aku tau saat kamu melihat orang lain begitu akrab, kamu ingin kita seperti mereka. aku tau saat kamu kecewa padaku, karena kamu kecewa bukan 1 kali tapi berkali-kali. aku tau saat kamu tak bicara pada ayahmu bahwa kita pacaran, karena kamu takut ayah kamu bakal ngelarang itu. aku tau kamu begitu sayang padaku saat karyamu tentangku aku lihat. Dan aku tidak tahu apakah akan bisa membalas kasih, sayang dan cintamu yang tulus itu” suaranya terasa berat terdengar. Seperti menahan sesuatu. Dika menatapku, hanya saja aku memalingkan wajahku. Aku tak ingin melihat raut wajahnya yang sedih itu.
“tapi seenggak nya kamu juga harus bisa bagi waktu buat aku. Sedikit aja” jawabku. Aku sama sekali tidak berani menatap matanya, terasa berat jika aku harus melakukan itu.
“maaf ya kalau selama ini aku jarang merhatiin kamu. Kamu tau kan kalau aku sibuk? Tapi kamu harus inget. Aku nggak selamanya sibuk, pasti masih ada waktu untuk kita bisa berdua. Percaya sama aku” ucapnya “aku tau aku salah, tapi tolong ngertiin aku” lanjutnya. Pandangannya menerawang jauh. Entah apa yang ada dalam pikirannya, aku tidak tahu itu.
“aku mau pulang, aku nggak mau debat lagi sama kamu. Aku cape” ucapku seraya berdiri dan meninggalkan dia sendirian di tempat itu. jujur aku takut, aku takut kehilangan dia. Sikapnya akhir-akhir ini sungguh berbeda, jadi semakin cuek saja.
Sikap Dika benar-benar semakin berubah drastis. Apalagi semenjak dia mengetahui bahwa aku sangat dekat dengan saudara laki-laki ku, Rizky. Juga kalau aku masih sering berkomunikasi dengan Rudi.
“saudara aku cowok semua. Jadi wajar kalau aku deket sama mereka. Kamu percaya sama aku. Aku nggak punya perasaan sama sekali sama mereka” kataku mencoba menjelaskan saat dia menanyakan hal ini. Namun tetap saja dia salah paham dengan semuanya. Aku hanya bisa pasrah.
Aku dan Dika sering ribut akhir-akhir ini. Hubungan kami merenggang, seperti terhalang sesuatu, entah itu apa. Dika yang dulu perhatian, kini semakin cuek kepadaku. Pernah aku menanyakan hal itu kepadanya, hanya saja pasti dia menjawab pertanyaanku dengan sebuah pertanyaan lagi.
“harusnya kamu juga sadar kenapa aku bisa kaya gini. Itu karena kamu juga. Kamu tuh kaya anak kecil. Lama-lama aku bosen sama sikap kamu” ucapnya emosi.
“aku sadar aku egois, aku kaya anak kecil. Itu semua karena aku cinta sama kamu, aku sayang sama kamu. Dan aku ngga mau kehilangan kamu” aku sudah tidak mampu menahan airmata ini. Mataku berkaca-kaca. Sebutir air bening keluar dari sudut mataku. Ya aku menangis. Menangis di depannya. Dia menatap aku yang menangis di depannya. Dia meminta maaf kepadaku, tapi aku hanya diam tak menghiraukan ucapannya. Sepulang dari bertemu dengannya. Aku sama sekali tak menghubunginya, meskipun dia berkali-kali menghubungiku, namun aku tak menghiraukannya.
Aku menceritakan kejadian ini kepada ketiga sahabatku ketika kita bertemu di sekolah.
“aku juga udah nebak dari awal Nis, kamu sama dia pasti bakal sering berantem gini. Bakal sering putus nyambung, dan itu semua karena sikap kamu sendiri” ucap Gita memulai percakapan.
“hush kamu nggak boleh ngomong gitu Git. Dan kamu Nis, kamu harus inget. Perjuangan dan usaha kamu buat ngedapetin dia itu nggak gampang. Kamu nggak boleh nyerah gitu aja. Kamu harus sabar, makanya kamu harus berubah sedikit demi sedikit. Kamu pasti bisa, kan nggak ada yang ngga mungkin kalau kita mau usaha. Buang sikap kamu yang kaya anak kecil itu” ucap Fania mencoba menenangkanku. “betul tuh” timpal Siska. Lega rasanya kalau semua masalah ini sudah aku ceritakan kepada ketiga sahabatku. Segala sesuatu yang berhubungan dengan Dika, selalu saja aku ceritakan kepada ketiga sahabatku. Meskipun Dika tidak menyukai hal ini, dia tidak suka kalau aku menceritakan tentangnya kepada ketiga sahabatku. karena sifatnya yang cenderung cuek, tertutup dan pendiam itu. “Aku cuma nggak mau kalau entar banyak yang tau kita pacaran” ucap Dika waktu itu.
Hari kamis, aku ada jadwal latihan ekstrakurikuler hari ini. Aku mengikuti eskul Marching Band. Aku sangat menyukai musik, itulah alasanku memilih eskul ini. Kebetulan pula hari ini Dika juga ada jadwal eskul, dia mengikuti eskul silat di sekolah.
“Nisa, kalau kamu udah pulang eskul duluan tungguin aku ya. Kita pulang bareng” ucap Fania sambil berteriak dari kejauhan ketika aku sedang berjalan ingin sholat di masjid sekolah.
Latihan hari ini sama saja dengan hari-hari sebelumnya. Bermain alat musik. Mempelajari PBB dalam Marching Band. Dan rutinitas selesai latihan adalah sharing bersama para senior. Latihan hari ini selesai, aku berjalan menuju ke depan sekolah. Namun belum sampai di depan sekolah, tiba-tiba hujan besar. Aku pun berlari meneduh di dekat post satpam.
Fan, kamu dimana? Latihannya selesai belum? Aku udah pulang nih, lagi neduh deket post satpam. Cepet kesini ya kalau kamu udah pulang latihannya.
Kurang lebih seperti itulah isi pesan singkat yang aku ke kirim ke Fania. Aku menunggunya, lama sekali. Sambil menunggu Fania, aku melihat hujan. Lamunanku teringat kembali pada masa 2 tahun lalu bersama Rudi. “Hujan punya cerita tentang kita” pikirku dalam hati. Aku terbangun dari lamunanku ketika suara handphone berbunyi. Aku melihat layar itu baik-baik. nama Rizky tertera jelas sana.
“ya Haloo” sapaku dengan keras, tak mau kalah keras dengan suara hujan ini.
“kamu ada dimana? Udah sore kok belum pulang? Ibu kamu nyariin tuh, orang tuh kasih kabar tah apa!” suaranya membuat telingaku bising. Huh Rizky kebiasaan! Dia paling cerewet kalau semuanya yang berhubungan dengan aku.
“ya sorry kalau aku nggak ngabarin, ini baru pulang eskul. Terus pengen pulang ujan, jadi ya udah nunggu reda dulu deh…” jawabku datar.
“apa? Latihan eskul? Heh dibilangin kamu tuh jangan pernah ikut kegiatan apapun di sekolah. Kamu tau sendiri kan kamu tuh nggak boleh kecapean, kamu lupa sama kejadian kemaren?” Rizky terus berbicara tapi aku malah tak mendengarkannya. Aku teringat dengan kata-kata Rizky yang tadi. Waktu liburan kemarin aku masuk rumah sakit, efek kecapean dan banyak beban pikiran. Malamnya aku berantem sama Dika. Dan pagi-pagi entah kenapa aku mimisan banyak sekali, padahal siangnya aku ada janji dengan Gita ingin main ke sekolah. Tapi dengan terpaksa aku nyuruh Rizky buat memberitahu ke Gita kalau acaranya BATAL.
“hey tengil, aku ngomong didengerin nggak sih? Ngapain diem? Pokonya sekarang aku ke sekolah jemput kamu ya!” suaranya membentak.
“mmm, eh abis suara kamu berisik sih. Nggak usah aku masih bisa pulang sendiri kok.”
KLIK!
Aku terpaksa menutup telpon dari Rizky. Tiba-tiba aku dikagetkan dengan keberadaan Fania di sampingku. Dia hanya tertawa melihat ekspresi wajahku yang kaget.
“apaan sih Fan. Gak lucu tau! Eh pulangnya entar ya. Ujannya belum reda, aku juga mau sekalian nunggu Dika latihan silat. Dika udah selesai kok, bentar lagi pasti kesini. Mau yaa nemenin aku? Pleaseee…” aku memasang tampang melas sambil merengek seperti anak kecil di depan Fania supaya dia mau menemaniku.
“hmm gimana ya? Ya udah deh iya gak papa. Daripada entar kamu bawel ke aku” kata Fania sambil tertawa. Fania memang yang paling mengerti aku. Dia terlihat lebih dewasa dariku, terutama sikapnya. Jadi jika bersama dia, aku seperti anak kecil saja. Ketika hujan sudah mulai reda, dan hanya gerimis yang ada.
“eh itu Dika” Fania menunjuk ke Dika yang sedang berjalan menuju kesini. “Kamu sama dia jalan duluan yaa, aku mau beli minum dulu di depan sekolah” ucap Fania sambil meninggalkan aku. Kalau ada Dika pasti Fania selalu pergi, dia selalu memberi kesempatan untuk aku dan Dika supaya bisa berdua.
“eh Fan jangan gitu sih” aku mengejar Fania ke depan. Aku tidak biasa berdua dengan Dika. Jadi aku memutuskan untuk menunggu Fania.
“ayo katanya mau pulang bareng. Mau pulang bareng nggak?” sapa Dika. Yang kemudian disusul temannya yang berada di belakang Dika. Aku marah, kesel, kecewa pada Dika. Padahal tadi kan kita sudah janji ingin pulang bareng. Tapi kenapa dia malah bersama temannya?
“nggak, duluan aja!” jawabku dengan ketus. Dan Dika pergi begitu saja, seperti tidak punya salah sama sekali.
Aku marah dan sangat marah. Refleks aku membuang handphone ku ke jalan. Aku menangis. Bukan hanya sekali Dika melakukan hal seperti ini kepadaku. Tapi berkali-kali. Dika selalu seenaknya membatalkan janji begitu saja, tanpa alasan! Fania langsung berlari ke arah ku. Dia mengambil handphone ku yang pecah di jalanan, dia juga mengambil Card yang jatuh ke selokan.
“Nisa hey! Gak usah kaya anak kecil, bisa kan? Liat tuh HP ancur gitu. kalau ngelakuin sesuatu tuh mikir dua kali coba. Udah ayo kita pulang. Jangan nangis lagi” ajak Fania. Aku menurut. Aku berjalan di belakangnya. Entah apa yang sudah aku lakukan tadi, aku benar-benar marah dengan Dika. Dika jahat banget! Sepanjang jalan aku hanya menangis.
“Dika jahat Fan. Dia seenaknya gitu sama aku, dia pergi gitu aja tadi. Padahal kan tadi dia udah janji mau pulang bareng, tapi tadi apa coba” kataku membela diri.
“pergi gitu aja? Hey tadi aku liat Dika. Dia tuh nawarin sama kamu, tapi kamunya aja yang nolak!” ucap Fania yang membuatku langsung terdiam. Fania benar, tapi tetap saja Dika yang salah.
“tapi Fan” suaraku terputus. “tetep aja Dika yang salah. Dika nggak pernah peka sama perasaan aku, dia nggak pernah mau ngertiin aku. Apa-apa harus selalu aku yang ngertiin dia. Kenapa dia nggak pernah ngertiin aku?” tangisku semakin menjadi-jadi.
Sesampainya dirumah, aku mengaktifkan nomor dengan menggunakan tablet. Handphone ku rusak saat aku banting tadi. Tiba-tiba saja ada messages masuk. Dari Dika, aku kaget saat membuka pesan darinya.
From Sipit
JAWAB JUJUR! Tadi kamu banting handphone kamu? Apanya yang rusak? Kamu beli handphone itu harga berapa hah?
Aku berfikir, darimana Dika tahu kalau handphone ku rusak. Pasti Fania yang memberitahu kepada Dika.
To Sipit
Iya, aku nggak tau sayang. Udahlah nggak usah dibahas, kan masih ada tablet. Kita masih bisa smsan kok ini. Maaf yaaa
Beberapa menit kemudian Dika membalas pesanku.
From Sipit
Sikap kamu tuh kaya anak kecil. Aku nggak suka kalau kamu kaya gitu. Udah mending kita PUTUS aja. Lama-lama aku bosen sama sikap kamu itu. dan perlu kamu tau ya selama ini aku nggak pernah cinta sama kamu, dan nggak akan pernah cinta. Aku Cuma kasian sama kamu, dan rasa sayang aku ke kamu tuh Cuma karena aku ingin ngebales kebaikan kamu aja. Dan sepertinya sekarang rasa aku ke kamu udah beku, seperti ke Riska dulu. Aku udah nggak ada rasa lagi sama kamu. Aku Cuma nganggep kamu sebagai adik aku, maaf.
RISKA? Kenapa harus ada nama itu? Riska itu sepupu Dika. Mereka pernah dekat, bahkan dekat sekali. Namun semuanya berbeda ketika Riska lebih memilih pacarnya daripada Dika. Sejak saat itu mereka menjadi jauh. Dika membuang jauh-jauh rasanya ke Riska. Padahal Riska selalu memohon agar Dika tidak melakukan hal itu. namun percuma, sikap Dika keras, dia tidak mungkin akan membatalkan keputusnnya.
Dan sekarang Dika akan melakukan hal itu kepadaku? Aku tidak mau, aku begitu mencintai dan menyayanginya. Aku tak ingin Dika melakukan itu. kenapa secepat ini Dika membuang rasa itu, benarkah? Aku menangis, di sudut kamar ini. Tak ada yang tahu. Aku mencoba menulis pesan singkat kepada Dika, dengan sisa tenagaku. Air mataku tak kunjung berhenti.
To Sipit
Dalam hubungan ini biarkan saja hanya aku yang mempunyai rasa cinta dan sayang, kamu cukup merasakannya. Kamu tak perlu membalas rasa itu. aku berharap semoga aku kuat bertahan dengan semua ini. Dan jika suatu saat nanti aku merasa lelah dengan semuanya, maaf aku harus pergi, aku minta maaf sayang. Tapi aku mohon, aku nggak ingin kita putus. Kasih aku kesempatan.
Dika membalasnya lagi.
From Sipit
Sebenernya aku bisa aja ngasih kesempatan lagi ke kamu, tapi percuma. Kamu pasti bakal ngulangin hal itu lagi. Aku minta waktu, aku pengen sendiri dan nggak mau diganggu. Maaf.
Belum selesai masalah antara aku dan Dika, sekarang bertambah lagi masalah besar. Pacar Rizky menelponku, dua hari yang lalu Rizky mempunyai pacar. Dia menceritakan semuanya.
“eh asal lo tau ya. Rizky pacaran sama gue tuh karena kepaksa. Dia pengen manas-manasin lo doang! Dia cerita semuanya tentang lo. Dia nggak mau pacaran dari awal gara-gara lo lah, lo adalah orang yang spesial di hati dia lah. Dan masih banyak lagi. Gue enek kalau harus nyeritain semuanya ke lo. Jadi mending lo tanya sendiri aja sama Rizky nya. Gue bosen denger nama lo yang selalu dia sebut di depan gue” aku terhenyak mendengar perkataan perempuan ini. Aku benar-benar tidak menyangka kalau Rizky mempunyai perasaan ini kepadaku. Kita ini saudara, kita sangat dekat. Dan rasanya mustahil kalau ada rasa cinta itu. tangisku semakin memuncak, kenapa semuanya serumit ini?
Keesokan paginya aku merasa tidak enak badan, tubuhku tidak fit. Kejadian semalam benar-benar membuatku stres. Aku yang biasanya berangkat sekolah bareng sepupuku, Rizky. Kali ini aku berangkat sendirian, aku masih ingat betul suara perempuan yang semalam menelponku sambil menangis, mulai sekarang aku harus menjaga jarak dengan Rizky, aku tak ingin akan semakin banyak orang yang tersakiti dengan kedekatan kami, termasuk Dika. Ketika memasuki gerbang sekolah, aku melihat Dika. Aku hanya bisa melihatnya, tanpa bisa menyentuhnya sama sekali.
Sudah seminggu lebih Dika dingin kepadaku, sikapnya dingin. Aku berusaha menghubunginya lewat sms tapi tak pernah dibalas, ditelpon tak pernah diangkat, di chat facebook hanya dilihat. Cuma tanda ceklis yang aku lihat disana, itu berarti Dika sudah melihatnya, tapi kenapa dia tidak membalas sama sekali? Setiap kali bertemu di area sekolah, dia hanya diam. Aku mencoba menyapanya dan tersenyum, tapi Dika tidak membalasnya sama sekali. Aku semakin bingung dengan semuanya. Status hubungan antara aku dengan nya pun tidak jelas. Entah masih berpacaran atau sudah kandas begitu saja karena hal konyol yang aku lakukan waktu itu.
Bahkan akhir-akhir ini aku sering melihat dia bersama perempuan lain. Entah ada status apa di antara keduanya. Aku tak pernah ingin bersuudzon, hanya saja bukti itu selalu terlihat nyata di depan mata. Hanya Allah yang Maha Mengetahui. Aku hanya berharap semoga apa yang aku lihat tidak seperti apa yang aku bayangkan. Seminggu yang lalu dia pun memutuskan untuk mengakhiri “HUBUNGAN” ini.
Dan sampai sekarang hatiku masih tetap untuknya. Terkadang kalau berfikir secara logika. Untuk apa aku berpacaran dengan orang yang bahkan dia pun tidak pernah cinta kepadaku. Tapi begitulah perempuan, segala sesuatunya selalu menggunakan perasaan, tidak peduli seberapa hebatnya logika. Yaa aku tidak bisa membohongi perasaanku kepadanya. Aku begitu mencintai dan menyayanginya. Sampai saat ini…
Ternyata benar.
Cinta tak pernah meminta, Ia senantiasa memberi
Meskipun terkadang apa yang diberikannya tak pernah dihargai
Namun jika sudah cinta
Maka seperti apapun rasa sakit, cemburu dan kecewa
Semua akan hilang ketika mengingat cinta itu
Hanya saja jika cinta selalu disia-siakan
Maka dia akan memilih untuk pergi.
Dan aku sadar sekarang.
Aku terlalu banyak merasakan sakit daripada bahagia
Aku harus pergi…
Semua rasa lelah ini sudah tak sanggup untuk aku rasakan lagi
Biarkan aku sendiri bersama cinta ini
Biarkan hanya aku yang mempunyai rasa cinta ini
Karena Cinta selalu memberi bukan meminta dan tanpa mengharapkan sebuah balasan.

Tentang Aku dan Ketetapan Hati

Rio masih terdiam kaku menyadari kenyataan baru yang harus diterimanya. Perpisahan itu benar-benar harus menjadi sebuah saksi akhir dari kebersamaannya bersama seseorang yang selama ini lebih-lebih disayanginya, dan sampai kapanpun akan tetap begitu. Saat itu juga Rio harus berusaha mencoba menjelajah sepinya malam tanpa ada kebersamaan yang pernah dirasakannya saat itu, tentu saja ketika kebersamaan masih utuh.
Janji suci yang telah terucap di dalam hatinya kian memudar, waktu sendiri yang memakannya. Tak akan pernah lelah Rio berusaha untuk mencegahnya, namun dirinya sadar bahwa takdir itulah yang tidak bisa ditolaknya. Seakan perpisahan itu menjadi sebuah sungai yang membentang luas dan terasa nyata di depan matanya, Rio harus menyebranginya dengan kekuatan yang ada. Perasaan itu masih tetap satu, ketulusan pun satu, tapi mengapa harus luka yang mencorengnya? Mengapa harus ada luka yang kemudian mengkelami warna di hatinya, bukankah selama ini Rio sudah cukup tenang dengan perasaan itu?
Di depannya masih ada seorang perempuan yang beberapa waktu selanjutnya akan meninggalkan dirinya, ya inilah kebersamaan yang harus diraihnya untuk saat ini. Rio cukup sadar, seharusnya tak pernah ada perasaan yang terpaut kepada perempuan itu. Perasaan itu telah lama hinggap pada dasar hatinya.
“Jadi, lo mau pergi kemana, Fy?” Tanyanya to the point, pegangannya semakin erat dan semakin menandakan hatinya masih enggan menerima kesendirian baru pada berkas waktu yang belum terkumpul. “Lo gak bakal ninggalin gue kan?” Lanjutnya.
Perempuan yang akrab dipanggil Ify itu hanya menggelengkan kepalanya. “Aku gak akan pernah meninggalkanmu, meninggalkan kamu sama saja meninggalkan sesuatu yang telah melekat pada dinding hidupku.”
Rio tersenyum tipis mendengarnya. “Katakan pada gue, serius! Gue butuh keseriusan elo. Lo gak bakal ninggalin gue kan?” Tanyanya masih dengan nafas setengah berburu.
“Mustahil itu terjadi.” Balasnya sambil tersenyum lebar.
“Tapi, Fy, seandainya itu kenyataan, apa yang harus gue perbuat?” Rio menatap Ify dengan serius. “Kalo seandainya perpisahan itu takdir nyata yang ada di depan lo, apa bisa untuk gue tepis?” Lanjutnya dengan memasang wajah serius.
Ify mengubah posisi duduknya menjadi lebih rileks lagi dan juga lebih maju, kemudian diusapnya lembut tangan Rio yang sedang menggenggam salah satu tangannya. Ify menyadari, ada bentuk ketulusan yang tergambar lewat situasi ini. Situasi yang memungkinkan akan membunuh salah satu pihak dalam beberapa waktu ke depan ini.
“Sampai perpisahan hadir, kita akan tetap menjadi kita.” Ucap Ify dengan nada setengah berbisik.
“Fy, katakan pada gue, lo gak papa kan?”
Ify menggeleng. “Aku gak papa kok, Yo. Aku cuma gak tega lihat kamu seperti ini, harusnya kamu gak pernah ada di posisi yang juga bakal membunuh kamu. Apalagi kamu seorang laki-laki, maka kamu tak berhak menerima situasi ini.”
“Bagaimana pun gue, tetap saja gak bakal merubah keutuhan gue untuk tulus menyanyangi elo, meski kenyataannya di depan mata gue ada sebuah sungai yang mengalir membatasi waktu gue untuk mencintai elo.” Balasnya dengan serius.
“Janji ya, Yo.” Ify tersenyum senang, pandangannya tak lepas dari pemilik mata elang itu.
Rio mengangguk. “Tapi, lo gak bakal pergi, kan?” Ify menggeleng. “Beasiswa yang lo terima itu menandakan kepergian lo, Fy. Menandakan perpisahan itu ada.” Wajah Rio berubah seratus delapan puluh derajat, kini lebih dominan murung.
“Rio kenapa sih?”
“Gue mohon, jangan pergi. Gue belum siap untuk sendiri. Gue belum siap untuk mendalami dan juga mengikhlaskan arti kesendirian itu.”
Ify kembali tersenyum tipis, menyaksikan wajah tampan yang kini sedang terjajah sebuah takdir dimana wajah itu kini berubah menjadi wajah penuh kesedihan. Andai saja waktu tak pernah berpihak kepadanya, mungkin kebebasan untuk bersama akan selalu terasa nyata di depan matanya.
Namun mengapa harus takdir yang melerai kebersamaannya? Mengapa kini takdir itu membunuh dirinya sendiri, sedang Ify tak pernah menghendakinya? Suatu saat nanti, Ify yakin, bahwa ingatannya tak akan pernah lepas dari laki-laki yang selama beberapa tahun ke belakang ini mengisi hatinya. Rencana demi rencana yang sudah tersusun rapi itu kini harus kembali berantakan, terampas takdir yang memilukan itu.
“Aku takkan pernah pergi. Kamu salah mengartikan ini.” Ify semakin iba terhadap Rio. “Aku hanya akan memulai langkah baru, bukan berarti akan meninggalkanmu juga.”
Rio mencekal tangan Ify semakin kuat. “Katakan pada gue, lo bakal pergi.”
“Aku gak akan pernah pergi, Rio.”
“Gue masih ragu, Fy. Gue masih gak rela buat ngelepasin kepergian lo, apalagi kenyataannya harus ada beberapa hari gue yang sepi kedepannya. Gue belum bisa menerima kepergian lo sepenuhnya, kasih sayang yang gue miliki belum bisa memberikan kebahagiaan apapun untuk lo, Fy.” Ujar Rio.
“Suatu saat waktu akan mempertemukan kita pada titik kedewasaan yang lebih dalam lagi. Asalkan saja itu takdir.”
Dalam hati Rio, terukir sebuah penyesalan mengapa harus ada kasih sayang terpatri jelas hanya untuk perempuan itu? Perempuan itu juga memang membalas perasaannya, bahkan lebih sering menghabiskan sisa-sisa waktunya. Tapi seutuhnya bukan takdir yang salah.
Sepinya waktu yang harus dilewati semakin terasa dekat dan mengenalinya lebih dalam, Rio tak berhak untuk menghindarinya. Bagaimana pun takdir akan selalu hinggap di permukaan hidupnya, mengukir indah segala ketentuan yang pasti akan terjadi dalam hidupnya.
Selamanya waktu takkan pernah berhenti berputar, selama itu pula Rio harus berusaha mati-matian bagaimana cara mengikhlaskan, meski kenyataannya ini menjadi sesuatu yang teramat menusuk baginya. Perpisahan itu mengalir lewat dinding waktu dan meresap lewat sepi yang mengendap.

Saat kebersamaan tak lagi dirayakan dengan deras dan juga penuh kemeriahan, mengapa harus ada akhir yang menyudutkan salah satu pihak? Perpisahan itu wajar, tetapi sewajarnya perpisahan mengapa harus menghentikan kebersamaan yang telah mengalir?
Waktu kelulusan semakin dekat dan keinginan untuk kuliah bersama itu semakin terlihat samar. Ify yang menyadarinya, begitupun dengan Rio. Kini keduanya tengah duduk di bangku taman sekolah belakang, menikmati kebersamaan yang tersisa. Sesuatu yang seharusnya bisa dirasakan itu kini akan melenyap di masa depan. Rio pun begitu, takkan pernah bisa menyusul Ify ke luar negeri.
“Moment demi moment yang telah kita rajut selama ini sudah terkunci dalam hatiku menjadi sebuah memori.” Ify menghela nafas sejenak. “Dan perasaan yang telah kita tanam selama ini akan menghasilkan bibit baru, yang kutahu aku takkan pernah melayukannya.”
Rio masih termangu. Pikirannya masih tenggelam ke arah dimana hanya ada kebersamaan dan kebersamaan yang tercapai dalam sisa waktu ke belakang ini, yang pasti akan mengukir sebuah kenangan pada jendela hatinya.
“Walau gue gak selalu sempurna, tapi hanya elo yang bisa nerima gue disini, Fy.” Ucap Rio dengan lemah, nafasnya terdengar lebih ritmis. Sementara pikirannya masih sibuk mengaduk-aduk harapan demi harapan untuk masa depan nanti, dimana hanya ada dirinya sendiri dan juga bayangannya.
“Suatu saat aku akan menyempatkan waktu untuk bisa menikmati kebersamaan yang terasa sempit untuk kita.” Ify tersenyum tipis, seolah ucapannya telah menjadi sebuah janji suci yang terukir indah di dalam hatinya. Ify percaya akan hal waktu, dimana waktu akan memberikannya kekosongan dan selama itulah Ify bisa menikmati kebersamaan dengan Rio.
“Janji?” Rio menatap Ify serius.
Ify mengangguk. “Iya, aku tak akan pernah menginginkan ada waktu kosong tanpa ada kehadiranmu disini, lagipula selama ini kita belum pernah membiarkan diri sendiri dalam waktu yang kosong, bukan?”
“Apapun keputusan lo, gue akan selalu mendukung lo disini, meraihnya lewat doa. Disini gue akan menjadi seseorang yang lo harapkan. Lo ingin melihat gue jadi photographer kan? Suatu saat juga gue gak bakal pernah mau mengambil objek berisi perpisahan kayak kita, gue gak akan pernah mau akan itu.” Ucapnya penu harap.
“Thanks.”
“Dan lo akan menjadi diri lo yang baru, yang mungkin akan lebih baik lagi jauh dari ini. Gue doakan itu.” Rio mengusap bahu Ify dengan lembut.
Ify meraih tangan Rio. “Waktu akan menjadi pembatas untuk kita, tetapi kamu tidak perlu khawatir, Yo. Aku akan berusaha sebisa mungkin untuk tidak melupakanmu.”
“Kenapa gak sekalian aja lo lupain gue, Fy?”
Ify menggeleng. “Gak, mustahil itu terjadi. Waktu yang menjadi pembatas kita akan terus mempererat perasaan dan dalamnya ketulusanku untuk kamu. Semakin berputar, semakin dalam juga perasaan ini.”
Rio tersenyum senang. Ini adalah sesuatu yang bisa membuatnya melayang. Rio hanya memaksakan tersenyum, sementara jauh dari itu dirinya sedang berusaha mati-matian menahan sebuah tangisan yang membeku.
“Kemanapun lo melangkah, gue akan ada untuk lo. Ya, meski gue hanya berbentuk sebuah bayangan yang tak pasti untuk lo.”
“Ketulusanmu membuat aku bisa memaknai hidup lebih jauh lagi dan lebih dari sebelumnya. Semoga kamu tetap menjadi yang terakhir untukku.” Ucap Ify penuh harap.
“Thanks.” Balasnya setengah lirih.

Rio mengarahkan pandangannya untuk tetap memperhatikan langkah Ify yang tertuju kepadanya. Ujian Nasional telah berhasil dilewatinya dan perpisahan itu semakin dekat dan semakin mulai tersentuh hawanya.
“Ternyata ujian nasional itu mudah untuk kita lewati ya, Yo.” Ucap Ify meminta persetujuan.
Tanpa sadar, Rio semakin terhanyut dalam pikirannya. Di hari tua itu, Rio masih menyimpan harapan demi harapan yang tak mungkin dibiarkannya terkubur karena waktu. Akan diletakannya seutas keikhlasan sebagai penghias waktu untuk sebuah hati yang sedang bertengger pada kesendirian. Semoga saja Rio mampu melewati waktu yang cukup panjang itu, ya meski kenyataannya tanpa kebersamaan.
“Iya, sekarang kita tinggal melewati ujian terberat. Rasanya gue gak bakal mampu.”
“Ayo kita sebrangi, Yo!” Ucap Ify dengan nada semangat, meski sebenarnya ragu akan ucapannya sendiri.
“Gue mau pesen jus, lo mau apa, Fy?” Tanyanya usai bangkit dari duduknya. Inilah kebiasaannya dari kecil. Rio dan Ify sama-sama selalu menyempatkan diri untuk makan-makan bersama usai UAS selesai, dan ini adalah Ujian terakhirnya di masa-masa SMA, masa dimana Ify dan Rio harus menggadaikan kenangan yang ada pada garis waktu.
Ify berpikir sejenak. “Aku teh manis aja, Yo.”
“Oke, tunggu gue.”
Kini Ify sendiri pada diamnya, beberapa saat kemudian Rio pasti kembali membawa minuman yang tadi dipesan Ify sesuai selera Ify sendiri.
“Andai kita gak pernah kenal ya, Yo. Mungkin takdir ini takkan pernah bisa membunuh hidup kamu, bahkan takdir ini juga terasa pahit untukku. Lebih tepatnya, takdir ini adalah ujian dunia yang harus aku lewati. Aku termotivasi akan hal ini, tapi tak seharusnya juga aku merasakan keasyikan di atas takdir ini.” Ujarnya. Tangisannya perlahan mulai pecah dan bermuara menjadi rangkaian nada yang berbaur dengan kata-katanya.
Perlahan, Ify memejamkan matanya sejenak. “Saat aku tak mampu melangkah, kamu pernah menyemangatiku, Yo. Saat aku tersesat di antara jalan-jalan menuju kebahagiaan untukku, kamu menunjukannya lewat cara dan kesederhanaanmu. Saat aku meneteskan air mataku, kamu menutupinya dengan sebuah canda yang kamu bahwa khusus untuk melarikan tangisan yang telah aku buat. Saat aku mampu menikmati waktu dengan kamu, kamu mampu mewarnai waktu yang aku miliki. Dan kini, saat kepedihan dirayakan hati kita masing-masing, rasanya aku yang bersalah disini. Aku, Yo.”
Tetesan demi tetesan semakin membasahi tangan Ify yang diletakannya di atas meja. Ify menengadah, berharap hujan turun hanya untuk menyamarkan matanya yang mulai terasa perih dan juga air mata yang terus mengalir pada kedua pipinya. Ify tak bisa menahan laju geraknya, karena kepedihan itu akan terus mengendap di dalam hatinya.
“Ketika kita tidak mampu untuk melangkah, kita saling memapah satu lain. Ketika kita terjatuh, kita saling membangkitkan satu sama lain. Ketika kebahagiaan sulit untuk kita rajut, kita mencarinya dalam bekunya waktu. Ketika perasaan kita egois, kita menenangkannya dengan sebuah keikhlasan dan penuh kesabaran. Dan kini saatnya kepedihan yang kita rasakan, maka akulah yang merasa bersalah lagi. Aku lagi, Yo.” Tangisannya semakin berirama mewarnai kata-kata yang keluar dari mulutnya.
Ify menyeka air mata yang membasahi pipinya, tetapi air mata yang lain menyusulnya. “Masa lalu yang pernah kita lewati kini akan hadir suatu saat dalam ingatan kita, mengukir sebuah kenangan yang tak mungkin kita lupakan. Masa-masa sekarang menuju kelulusan, kita berusaha mati-matian menikmati kebersamaan yang tersisa. Dan masa depan yang pernah kita ceritakan selagi di bangku kelas, rasanya sudah lenyap menjadi sebuah bayangan.” Ify tersenyum miris menyadari ucapannya sendiri.
Saat tatapan Ify menatap penuh ke arah Rio, Ify berusaha mati-matian menghapus sisa-sisa air matanya. Dari jauh, Rio terlihat pucat dan tidak bersemangat untuk berjalan menujunya, maka dari situlah Ify bisa menemukan awal dari kerapuhan hidup Rio. Kini harapan tinggalah sebuah harapan.
“Lo nangis, Fy?”
Ify menggeleng. “Tadi mataku terkena debu, tadi ada angin cukup besar. Kamu merasakannya?”
“Lo gak usah bohong, Fy.”
“Aku gak mungkin membohongi kamu, Yo. Aku takkan pernah ingin berbohong untuk hal-hal yang tidak berguna. Lagipula selama ini aku sudah berusaha menutupi kebohongan yang ada, bukan?”
Rio mengangguk. “Gue tahu. Ini diminum dulu.” Kemudian Rio duduk kembali, menghadap ke arah Ify sambil meneguk segelas jus.

Setelah selesai menikmati kebersamaan yang cukup panjang, Ify akhirnya meminta untuk pulang. Rio hanya menyetujuinya karena waktu memang sudah mulai sore, dan waktu sore itulah yang semakin menunjukkan jelas tanda keberadaan perpisahan itu. Ah, Rio harus melakukan sesuatu!
Gue mau lo gak jadi pergi dari gue, tapi bagaimana gue bisa menolak itu? Gue juga gak mungkin menghalangi lo buat menempuh cita-cita lo, tapi bagaimana dengan gue yang nantinya bakal terikat perasaan ini selama beberapa tahun ke depan?
“Ayo, berangkat.”
Rio masih tercenung, tak mengindahkan perkataan Rio baru saja. Karena Rio pun tidak mungkin tidak memikirkan hal ini pada saat-saat mendekati itu terjadi.
“Rio? Ayo berangkat.”
Saat itu juga Rio mulai tersadar akan perkataan Ify dan mulai melajukan mobilnya.
Rio memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi, tentu saja saat ini Rio ingin melampiaskan segala kekesalannya karena takdir yang mematikan itu. Terlebih Rio ingin mencegah akan kepergian Ify untuk melanjutkan study di luar negeri. Perpisahan yang tak pernah diinginkan itu harus menjadi sebuah kenyataan yang pahit untuk hidupnya. Sampai saat ini akan terus menjadi beban baginya.
Sedangkan di sebelahnya, Ify hanya berjaga-jaga diri. Ify tahu mengapa Rio seperti ini, ini semua salah Ify, tapi harus bagaimana lagi? Kedua orangtuanya menginginkan Ify untuk menerima beasiswa itu, karena inilah kesempatan emas baginya. Disamping itu Ify masih ragu untuk menjalankan hal tersebut, langkahnya saat ini memang tidak tentu arah.
Semakin tinggi kecepatannya, semakin membuat Ify ingin segera turun dari kendaraan milik Rio itu. Bagaimana tidak, Ify pernah dibuat trauma karena pernah kecelakaan saat menggunakan motor dengan kecepatan tinggi dan hal itu membuat Ify phobia akan kecepatan.
“Rio, aku minta kamu berhenti untuk melakukan hal ini, Yo.” Pintanya dengan sedikit rasa takut yang ada pada dirinya sendiri.
Sedangkan Rio yang sedang menyetir benar-benar tidak fokus terhadap jalanan, pikirannya masih sibuk akan hari-hari yang sudah tak terasa mendekati dirinya, hidupnya.
Sampai kapanpun, kepahitan terbesar gue adalah saat dimana perasaan gue harus tertinggal disini karena dirinya kehausan akan balasan dan juga kasih sayang seutuhnya.
Kejadian demi kejadian kini terputar menjadi sebuah peristiwa yang terekam dalam memori pikiran Rio.
“Yo! Aku turun disini aja, aku takut.” Keluh Ify dengan menampakkan wajah ketakutannya.
Tetap saja Rio tak mendengarnya, karena sebuah rekaman dalam ruang pikirannya masih terputar.
Harusnya perasaan ini gak pernah ada dan harusnya gak pernah ada secuil pun rasa perduli akan seseorang yang hanya datang untuk pergi. Tapi, dia terlalu indah bagi gue.
“RIOO!” Teriak Ify karena kesal.
Saking kesalnya, Ify segera merenggut setir guna mengalihkan arah laju mobil yang mengarah ke sekitar perkebunan. Saat itu juga Rio mulai sadar. Namun sayangnya, kesadaran Rio hanya beberapa saat saja karena setelahnya hanya ada serangkaian peristiwa buruk yang menimpanya.
Kini kejadian itu telah terjadi. Tadi dari arah yang berlawanan sebuah mobil truk sedang membawa barang bawaannya, namun supir truk tersebut terlihat seperti mabuk dan hilang kesadaran. Kini yang terlihat hanyalah keduanya yang masih tak sadarkan diri.
Beberapa menit ke depannya Rio tersadar dan segera membawa Ify ke rumah sakit tanpa memperdulikan darah yang masih mengalir segar di dahinya.

“Jadi maksud dokter, Ify sudah tidak bisa diselamatkan lagi?” Tanya Rio tak percaya. Saat itu juga air mata mulai mengiringi kekacauan dirinya.
Tadi dokter sudah menolong Ify dengan alat penghentak jantung, namun Ify tetap saja seperti semula sampai dokter memutuskan untuk mengabarkan hal ini kepada Rio. Dan kini Rio benar-benar terpukul akan hal ini.
Rio mulai berlari menuju ruangan dimana raga Ify sudah terbaring dalam keadaan tak bernyawa. Sangat disayangkan, perempuan yang hendak melanjutkan kuliahnya di luar negeri kini harus melanjutkan hidupnya ke alam lain.
“Fy, ini gak lucu, Fy. Lo harus jujur sama gue, lo masih hidup kan? Lo cuma pengen gue nangis kan, Fy” Rio mendesak Ify, namun yang didapatkannya hanya sebuah kebisuan.
“Lo bilang kalau mau pergi untuk selamanya, Fy! Harusnya lo bilang sama gue kalau lo datang hanya untuk pergi, Fy. Harusnya lo bilang dari awal sebelum gue melanjutkan perasaan gue ini, sebelum akhirnya gue memilih untuk selalu menikmati kebersamaan bareng lo, yah tepatnya sebelum gue benar-benar serius untuk menjalani kita di dalam hidup antara lo dan gue.” Nada bicaranya mendadak melemah, Rio sudah menyadari kepergian perempuan itu,
“Gue gak akan beranjak pergi dari sini selangkah pun sampai lo hidup kembali, Fy. Lo denger gue kan, Fy? Lo denger gue, kan?!!” Tanyanya litotes.
“Gue bakal lebih merasakan kerinduan yang dalam buat lo, dimana saat-saat musim dingin kita lebih menghabiskan waktu untuk belajar bersama di rumah, Fy. Gue… kangen itu.”
“Saat lo pergi dari sekarang, gue akan kembali bersama siapa nanti? Saat ada sebuah acara reuni untuk teman-teman sekelas maupun seangkatan kita, dengan siapa lagi gue bakal saling bertukar cerita? Dengan bayangan elo? Atau gue mendadak jadi orang gila yang hanya ngomong sendiri? Itu gak mudah, Fy. Gue masih ingin menikati hidup dengan lo.”
“Tapi gue cukup sadar, lo hanya datang untuk pergi.”
Rio pun segera berlari keluar area rumah sakit, membiarkan raga Ify terbaring disana sampai keluarga Ify datang. Tadi Rio sempat mengabarinya.

Hari perpisahan telah tiba. Tentu saja pengumuman lulusan terbaik pun akan diumumkan. Rio tampak tak bersemangat, yang ada Rio hanya ingin mati saja untuk saat ini.
Saat pengumuman lulusan terbaik diraih atas nama Ify Alviany, perasaan bangga benar-benar membuncah dalam diri Rio. Namun sampai saat ini, orang itu takkan pernah bisa dijumpainya sampai kapanpun.
“Yang gue tahu, untuk saat ini ke depannya gue gak bakal pernah bertemu lagi dengan lo yang selalu bersinar di hari-hari gue sebelumnya. Semua salah gue, Fy.”
“Suatu saat gue kembali ke sini hanya untuk mengingat kenangan yang tak mudah buat gue lupakan, Fy.” Ucapnya pelan usai turun dari panggung.
“Dan bagi gue, melupakan lo adalah sesuatu yang gak pernah gue inginkan. Bagi gue melupakan lo hanyalah sebuah kemustahilan.”
“Gue menyesal, harusnya lo melanjutkan pendidikan lo. Tapi karena gue lo harus meneruskan hidup lo ke alam lain. Gue tahu, Fy, gue salah. Bahkan gue sangat bersalah karena telah meniadakan kehadiran lo di samping gue yang tinggal beberapa saat lagi. Tapi, harusnya lo tahu bagaimana besar perasaan gue saat gue tahu kalau lo harus pergi. Itu yang membuat gue gak sanggup buat sendiri.”
Dengan mood yang cukup tinggi, akhirnya Rio meminta untuk menampilkan sebuah penampilan khusus dari dirinya.
Rio mulai bernyanyi.
Di bawah langit mega kemerahan
Engkau sendirian memulai langkah barumu
Suatu saat engkau kan melihat
Jalan yang berwarna seperti mimpi
Baju sekolah dan hari-hari itu
Terkunci dalam hatimu menjadi memori
Engkau kan jadi dirimu yang baru
Dan ku akan selalu mendukungmu
Saat kau memandangiku cemas
Dan kau memaksakan senyuman di bibirmu
Air mata jatuh di pipimu
Inilah saatnya kau menjadi dewasa
Aku kan jadi pohon sakura yang abadi
Ya ku takkan beranjak selangkahpun dari sini
Meskipun engkau telah kehilangan semangatmu
Ku ada disini agar engkau tahu dimana cinta
Masa depan yang engkau ceritakan
Dengan teman-temanmu di kelas saat itu
Itulah awal munculnya cahaya
Yang menerangimu dalam setiap langkahmu
Jangan kau rindu kala kau berbunga
Saat layu seperti bunga di musim dingin
Itu pasti akan menguatkanmu
Dan bunga-bunga pun mekar kembali
Suatu saat nanti kembalilah
Sendirian di halaman sekolah ini
Maka ku dapat berjumpa lagi
Denganmu yang bersinar di waktu kelulusan
Aku kan jadi pohon sakura yang abadi
Maka ku akan menjadi tanda awal langkahmu
Meskipun daun-daunku berguguran
Bangku taman itu pasti kan selalu setia menunggumu
Semua orang mungkin akan melupakannya
Ketetapan yang ada di hati mereka
Maka ingatlah saat musim sakura bermekaran
Tentang diriku, tentang pohon ini.
Suara tepuk tangan yang meriah dari para pendengar membuat Rio yakin bahwa kehilangan seseorang yang disayangi itu menjadi awal dari langkah barunya tanpa kebersamaan yang indah lagi. Inilah dimana Rio harus lebih menjadi dewasa, meski kini tak ada lagi kehadiran seorang Ify yang dulu pernah mengisi hatinya.
“Suatu saat berjanjilah untuk kembali kesini, Fy. Gue mohon…” Pintanya untuk yang terakhir kalinya

Ooh Cinta, Haruskah Begini?

Cinta, sebuah kata yang tak asing lagi bagiku, tapi aku tak tau betul bagaimana rasanya jatuh cinta.. Cinta, jika ingat kata itu maka akan muncul di hatiku rasa amarah, sedih dan kesal.
Oh cinta… Inikah cinta?. Kamu memang bukanlah yang pertama bagiku, tapi cinta tetaplah cinta.
Tanpa kusadari, hari itu adalah hari dimana benih cintaku mulai tumbuh.. Tumbuh dan merekah memenuhi relung hatiku yang kering.. Aku tak pernah meminta cinta itu, tapi allah berkehendak agar cinta itu bersemi di hatiku…
Akhy, aku tak punya alasan kenapa cinta itu merekah di hatiku… Aku tak tau sebab aku menyukaimu…
“mencintaimu dalam diam” itulah yang ku lalui. Awalnya cinta itu indah, sangat indah… Tapi sejak kau jadi sahabatku cinta itu seperti menusuk dadaku… Aku tak menyalahkanmu, ini konsekuensi cintaku dan aku harus menanggungnya!!
Hari itu adalah hari dimana kita menjalin sebuah persahabatan. Dan hari itu pula, aku tau bahwa cintaku terabaikan. Kau cerita tentang cintamu pada akhwat itu, oh akhy jika kamu tahu betapa hancurnya hatiku. Hancur sehancur-hancurnya… Rasanya ada yang patah di dada. Setelah hari itu kita jadi semakin dekat dan kau tau akhy apa yang terjadi dengan hatiku? Semakin hancur pula…
Hari demi hari ku lalui dengan senyum palsu,.. Saat melihatmu pun aku jadi marah. Tapi aku tak bisa bohong aku masih peduli padamu!! Dan aku masih mencintaimu!! Walau aku marah, curahan hatimu tentang dia masih ku tanggapi. Tentang perasaanmu, tentang sakitmu, tentang tersiksanya dirimu karena dia. Aku tak tega akhy. Aku takut jika aku tak memberimu motivasi, kau akan masuk ke dalam lembah maksiat. Aku takut!! Aku tak rela!! Aku tak kuat melihatmu bersama maksiat!!.
Akhy jika kau tau betapa sakitnya hatiku mendengarmu menceritakan tentang dia, maka kau tak akan tega melakukanya. Akhy sekuat tenaga aku menyembunyikan perasaanku, sekuat tenaga aku melupakan mu, sekuat tenaga aku mencoba membencimu, tapi aku tak berhasil. Aku terlalu peduli denganmu. Bahkan cintaku semakin tumbuh dan bermekaran walau kadang harus hangus karena sakitnya hatiku.
Allah, yang maha memberikan cinta lapangkanlah dadaku, palingkanlah aku darinya.. Hapus cintaku jika itu membuatku jauh dari-mu… Tapi, allah jika cintaku bisa membuatku semakin dekat dengan-mu, maka aku rela hati ini hancur…