Duduk terdiam di lantai teras rumah ku sembari memandang langit senja
yang ketika itu ditutupi oleh awan hitam. Bagi ku senja telah
kehilangan nyawanya ketika Mendung datang menyelimuti langit di sore
hari. Mata ku tertuju pada tetesan air yang satu demi satu turun
membasahi bumi, sesekali tetesan itu memercikan sebagian airnya ke wajah
ku, seketika aku tersadar hujan telah turun menemani langit mendung.
Aku masih tetap saja duduk menatap langit yang tampak buram, dan tak
jarang aku mengulurkan tangan menampung tetesan air hujan sembari
memainkannya.
Di keramaian rintik hujan yang turun mengingatkan ku akan
rahasia-rahasia di balik luka yang ku sembunyikan. Sebenarnya aku tak
mau mengingat luka itu, Namun setiap kali Mendung hadir diiringi
turunnya hujan aku tak pernah berhenti bertanya.
“Apakah kau tau jika aku terluka?”
“Atau… Apakah kau telah benar-benar lupa akan diri ku?”
Itu hanya sebagian dari pertanyaan-pertanyaan yang ada dalam benak ku,
dari sekian banyak pertanyaan ku tak ada satu pun pertanyaan yang aku
temukan jawabannya.
Aku benci mendung karena mendung mendatangkan hujan, keadaan yang
demikian membuat ku merasa sepi seorang diri, dimana segala aktifitas ku
di luar terhenti karena hujan dan semua itu berawal karena mendung.
Akhirnya aku hanya memikirkan masalah ku sendiri, kesibukan yang lain
terabaikan oleh ku. Masalah luka ini selalu menjuarai dari sekian banyak
masalah yang ada dalam diri ku dan tak heran jika aku larut dalam luka
itu ketika aku merasa seorang diri.
Hati ku pernah terluka tepatnya 2 tahun lalu, bukan untuk yang
pertama kalinya melainkan itu yang kesekian kalinya, tapi luka itu
merupakan kali pertamanya aku merasakan sakit yang teramat perih dari
luka ku yang sebelumnya, waktu 2 tahun tak mampu membuat ku lupa akan
kenangan bersamanya dan rasa sakit yang ia berikan pada ku, aku tak
berharap lebih untuk dapat melupakan semua kenangan dan rasa sakit itu
sepenuhnya dalam waktu sekejap, setidaknya untuk beberapa waktu saja,
sampai rasa sakit hati ku itu hilang. Namun, rasanya semua itu mustahil
terjadi, buktinya 2 tahun lebih waktu telah berlalu akan tetapi semua
tetap sama, semua hal tentang rasa sakit itu masih saja sesukanya
menghantui fikiran ku. Aku bingung harus berbuat apa untuk dapat
mengatasi rasa sakit itu. Segala usaha telah aku lakukan, Namun asa ku
tetap tak mampu, yang aku dapat hasilnya tetap saja nihil.
Hemmm… Tak ada yang dapat aku salahkan dalam hal ini, kalaupun ada
itu hanyalah aku seorang. Akulah yang salah mengapa terlalu menaruh
harap lebih terhadap rasa ku dan rasanya yang tak pernah satu rasa.
Mungkin itu lah sebabnya Tuhan menciptakan sebuah perpisahan, karena
perpisahan terjadi sudah pasti ada pertemuan, dan itu salah satu cara
Tuhan mengajarkan insan-Nya menjadi lebih baik lagi. Dan di balik luka
ini pasti ada hikmah yang diajarkan Tuhan kepada diri ku. Itulah
sebabnya mengapa aku sangat membenci mendung, karena ketika itu aku
selalu teringat akan masalah luka yang amat sangat sulit untuk
disembuhkan.
Tubuh ku gemetar seketika aku tersadar aku telah kedinginan, entah
telah berapa menit aku habiskan selama duduk di lantai teras rumah ku
sore itu. Tuhan telah menyadarkan ku betapa egoisnya aku yang terlalu
larut akan masa lalu, bukankah masih banyak hal yang harusnya aku
fikirkan, yang lebih penting dari pada hal itu, alangkah meruginya
diriku telah menghabiskan waktu untuk memikirkan orang yang belum tentu
memikirkan ku. Bodoh… aku terlalu naïf untuk mengakui kebodohan ku,
lagi-lagi Tuhan menyadarkan aku bahwa mendung dan hujan itu tak layak
untuk dibenci, melainkan untuk disyukuri sebagai anugerah dari-Nya.
Sejak saat itu dengan penuh kesadaran dan keyakinan aku bertekat untuk
tidak membenci mendung dan tidak mengungkit luka itu lagi, biarlah luka
itu menjadi rahasia yang akan berubah menjadi cerita di kemudian hari.
Semua luka ini memang sulit ku terima tapi kini hanya ada satu
permasalahan saja, Bukan aku tak sanggup namun hanya aku belum sanggup
menerimanya. Tentang rasa sakit ini biarlah waktu yang menyembuhannya,
bukan karena bantuannya, mereka, atau siapapun. Karena waktulah yang
akan lebih baik menyembuhkan ku. Aku seperti mendapatkan hidayah. Lega
rasanya, tak ada rasa benci dan rasa sakit hati, Semua perasaan itu
hilang seketika. Kemudian aku beranjak dari tempat aku duduk dan
bergegas melangkah masuk ke dalam rumah.
INFO
HAI SEMUA, SELAMAT DATANG DI BLOG SAYA. TOLONG BERI COMMENT BAGI YANG MEMBUKA BLOG INI UNTUK PENILAIAN KOMPUTER SAYA. BAGI YANG MENGCOMMENT BLOG SAYA HARAP MEMBANTU SAYA MEMPROMOSI KAN KE TEMAN2 ANDA. TERIMA KASIH:)
CLOCK
Langganan:
Posting Komentar
(
Atom
)
Tidak ada komentar :
Posting Komentar