“aku nggak akan membiarkan diriku sendiri masuk ke dalam lubang yang sama, yaitu kamu”
ya, hanya itu yang bisa aku katakan pada diriku sendiri saat mendengar
nama itu kembali di kehidupanku. entah kenapa, semua rasa itu kembali.
rasa kecewa, kesal, marah, bahagia, cinta, dan semua perasaan yang baru
aku rasakan setelah aku mengenalnya. setelah aku jatuh. ya, jatuh cinta.
entah memang cinta atau hanya sebatas suka. yang jelas aku sudah jatuh,
jatuh dalam lubang yang memberikan aku kebahagiaan. jatuh dalam lubang
yang berisi begitu banyak hal-hal indah disana. tapi lubang itu terlalu
dalam. lubang itu terlalu jauh dari aku kira. hingga aku tak bisa
keluar. hingga aku terjebak disana. di dalam lubang itu, sendiri, dalam
kesunyian. lubang yang seharusnya diisi oleh 2 orang, hanya tersisa aku
disini. dalam kesendirian yang menyiksaku. sendiri, ditinggalkannya
dengan semua kenangan indah yang pernah kita lalui berdua di lubang ini.
Pagi datang lagi. ini tahun keempat aku bekerja di perusahaan ini,
perusahaan yang memberikanku begitu banyak pengalaman. di tempat ini
juga aku bisa memperoleh sedan mewah dah rumah dinas yang perusahaan
berikan padaku. tapi ini semua tidaklah penting, karena bagaimanapun
hatiku kosong. aku ingat saat-saat itu. saat aku diam dan memperhatikan
mereka, keluarga besarku. keluarga besar bernama Panti asuhan Cahaya.
ya, Cahaya, itulah nama ku. anak yatim piatu pertama di panti asuhan
ini. anak yang memberikan cahaya pada seorang janda penjual kue yang
hidup sendirian. yang ditemukan di bawah pohon taman kota saat berjualan
kue. cahaya, itulah nama yang beliau berikan. sederhana, manis, tapi
banyak makna. karena sejak saat itu. ibu dewi memperoleh banyak rezeki,
kue yang biasa dijual laku keras bahkan salah satu toko ternama di kota
itu selalu memesan kue-kue buatan ibu dewi. 6 tahun semenjak ibu dewi
mengurusku, beliau bisa membeli rumah yang lebih dari sederhana untuk
kami berdua, saat itu pula panti asuhan ini didirikan. tempat dimana aku
bertemu denganmu.
Aku masih ingat air mata itu, air mata yang tak kunjung habis walau
entah sudah berapa tetes yang aku keluarkan. mungkin ratusan, ribuan air
mata. tapi itu tak bisa menghapus lukaku. saat melihat ibu dewi
terbujur kaku terbungkus kain putin bernama kafan. saat melihat tubuhnya
sedikit demi sedikit menghilang di bawah timbunan tanah. entah apa lagi
yang terjadi aku tak ingat. karena setelah itu aku sudah berada di
dalam kamarku dengan keadaan mata yang begitu bengkak hingga sulit
untukku membukanya.
Aku memang bukan anak yang ceria, bahkan tekesan cuek dan galak.
karena sifatku itu aku tak pernah punya banyak teman. dan orang yang
bisa melihat kebaikan dan kehangatan dalam diriku hanya ibu dewi, dan
kamu.
Ya. kamu memberi kebahagiaan buat aku. kamu menghapus semua lukaku.
kamu mengisi semua kesendirianku. kamu yang tau apa yang aku suka dan
apa yang aku benci tanpa aku beri tau. kamu yang tau semua kekesalanku,
semua perasaan yang hanya aku simpan sendiri. namaku memang cahaya, tapi
saat itu yang benar-benar menjadi cahaya adalah kau dan semua
kehangatanmu.
Semua begitu menyenangkan. karena kamu hatiku yang dingin menghangat,
dan sifatku yang keras melembut. saat umurku 17 tahun, saat itulah aku
menyadari, kalau aku benar-benar mencintaimu. dan disaat itu pula, kamu
pergi, meninggalkanku, dan semua kebahagiaan yang kamu berikan padaku.
—
“Aya!” seketika langkahku terhenti. jantungku berdegub sangat kencang
hingga mungkin dapat terdengar oleh orang-orang di sekelilingku.
nafasku seolah tercekat. sudah hampir 10 tahun aku tidak mendengar suara
itu. suara yang selalu terdengar hangat.
“hey, aya!” suara itu semakin mendekat, ditambah dengan suara langkah
kaki yang dipercepat. aku ingin menoleh, dan memastikan apakah suara itu
milik orang yang selama ini hilang dari hidupku. tapi tubuhku tetap
terpaku. paru-paruku pun ikut gugup dengan menunjukkan gejalanya, yaitu
sesak nafas.
Langkah kakinya semakin dekat. begitu pula dengan detak jantungku
yang semakin keras. “dia memanggil nama ku” kalimat itu berkali-kali aku
ucapkan, hingga entah sejak dari kapan dia sudah ada di depanku. mata
itu, senyum itu, adi! bersama hadirnya turut semua kesedihan yang sudah
10 tahun ini aku lupakan.
Kami berdua sama-sama membisu, menatap lekat wajah masing masing.
“aya, a..” plaakkk…
Tak sempat dia lanjutkan tanganku sudah mendarat keras di pipinya. aku
tak bisa menyembunyikan muka pucatku, hingga aku cepat-cepat masuk ke
dalam kantor dan membiarkan dia sendiri membisu kaget mendapat
tamparanku.
Tiba-tiba ada sms baru yang nomernya tidak kukenal.
“makasih aya, kamu masih mau menyentuhku. aku pikir kamu sudah jijik denganku”
Deg.. “kenapa respon dia malah kayak gitu sih, nyebelin banget. pergi aja sana jauh dari hidup gue. bikin sepet mata aja lo”
Tapi dia memang sama sekali tidak berubah, masih hangat sama seperti
dulu. akupun tak melihat sedikitpun kemarahan di wajahnya saat aku
menamparnya tadi.
Selesei bekerja aku langsung menuju sedanku. sekali lagi, dia
berhasil membuatku pucat pasi. dia datang dengan mengendarai sepeda
warna biru. kendaran favorit kami berdua.
“aku tau kamu nggak suka menaiki sedan itu, ayo! aku antar pulang”
Entah terhipnotis atau apa, aku menuruti keinginannya. menaiki sepeda itu dan dibonceng olehnya.
“kenapa kamu kembali?” pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulutku
tanpa aku sadari. sejenak ku tau dia kaget mendengar pertanyaanku karna
tiba-tiba sepedanya dia rem tanpa sebab.
“karena aku ingin mengembalikan kebahagiaanmu yang pernah aku ambil 10 tahun yang lalu”
deg, darahku seakan berdesir, dan seketika semua rasa yang sudah aku
lupakan kembali. kehangatan itu kembali kurasakan, hingga tak terasa air
mataku bisa keluar kembali. air yang selama ini membeku dan tak pernah
keluar lagi dari mataku, sekarang mulai mencair karena kehangatannya.
Adi yang tau aku menangis seketika menghentikan kegiatannya mengayuh sepeda.
“kau kenapa?” pertanyaan itu tak bisa ku jawab. aku malah terus melanjutkan tangisanku bahkan semakin keras.
“hey, aya! kau kenapa? maafin aku ya!” nada paniknya dapat aku dengar.
“ke.. kena.. kenapa.. kamu per..gi di? a.. aku ben..ci ba..nget sama
kamu! ka..kamu te.ga ninggalin a..aku sendi..ri” tetap dengan menangis,
aku tumpahkan semua kekesalanku hari ini, di depannya. dia tau bahwa
kebahagiaanku adalah dia. jika dia ingin mengembalikan kebahagiaanku,
itu berarti dia ingin kembali padaku.
“aku mendapat beasiswa untuk kuliah di perguruan tinggi di Autralia
aya, aku tidak bisa bilang padamu, karena hal yang paling tak kusukai di
dunia ini adalah melihatmu menangis” dia berbicara sambil menundukkan
kepalanya dalam-dalam, tapi semua itu tidak bisa menyembunyikan
ketakutan di wajahnya. semua gerak badannya dan ekspresi wajahnya
benar-benar menunjukkan bahwa dia sangat tertekan saat ini.
“aku benar-benar takut saat aku kembali kamu sudah menjadi milik orang
lain. tapi aku senang sekali, karena kamu tidak pernah menjalin hubungan
dengan siapapun setelah kepergianmu” refleks dia langsung memelukku,
aku masih mematung saat itu. semua ini benar-benar membuatku shock.
“aya! will you marry me?” sekali lagi wajahku memucat, air mata yang
sedari tadi keluar seketika terhenti. pertanyaan itu yang sejak dulu
ingin kudengar darinya, kini secara langsung diucapkannya.
Aku tetap mematung, wajahku mungkin sudah menyiratkan ekspresi seperti
seseorang yang akan menemui ajalnya, hingga dia kembali mengulang
pertanyaannya, kali ini dengan tatapan tajam mengarah ke arahku.
“aya, maukah kau menikah denganku?”
“yes”
Ternyata lubang itu selama itu tidak kutempati sendiri. dia juga ada
disana, di dalam lubang itu bersamaku. hanya saja aku tak bisa
melihatnya dengan jelas. tapi yang pasti, lubang ini tak sunyi lagi.
karena mulai hari ini, kami berdua akan kembali mengisi lubang ini
dengan kebahagiaan berdua.
INFO
HAI SEMUA, SELAMAT DATANG DI BLOG SAYA. TOLONG BERI COMMENT BAGI YANG MEMBUKA BLOG INI UNTUK PENILAIAN KOMPUTER SAYA. BAGI YANG MENGCOMMENT BLOG SAYA HARAP MEMBANTU SAYA MEMPROMOSI KAN KE TEMAN2 ANDA. TERIMA KASIH:)
CLOCK
Langganan:
Posting Komentar
(
Atom
)
Tidak ada komentar :
Posting Komentar