“aku sayang sama kamu. Tolong jangan sering marah-marah ke aku, aku
takut…” ucap laki-laki bermata sipit ini lirih sambil menatapku. tatapan
mata itu. hening, redup, berbinar, aku seperti menemukan kebahagiaan di
dalamnya. aku hanya membalasnya dengan senyum, senyuman bahagia.
Namanya Dika.
“aku…” aku tak mampu meneruskan kata-kataku, malu. mungkin dia mengerti dengan senyumku ini.
“udah sore, pulang yu. aku takut entar kamu kesorean nyampe rumahnya.
kan nggak baik kalau cewek pulang sore-sore” sambil berdiri, Dika
menunggu aku menjawab ajakannya itu. aku pun ikut berdiri, berjalan
berdua dengannya sampai tempat parkiran. dia mengambil sepedanya dan aku
berjalan menuju gerbang sekolah sekaligus menunggu angkutan kota.
“Aku pulang duluan ya sayang” suara Dika mengagetkanku, ketika akan
menjawab, dia sudah melesat jauh dengan sepedanya itu. Hari ini aku
menghabiskan waktu dengannya sejak pulang sekolah tadi.
Aku dan Dika sudah berpacaran sebulan lebih. Tepatnya pada tanggal 27
November 2013. Selama sebulan ini aku selalu berbagi canda dan tawa,
sedi dan senang. Bercerita tentang Dika, tentang keluarganya, bahkan
tentang masalalunya. Begitu pun sebaliknya. Aku sangat menyayanginya.
Dika sosok yang sangat aku kagumi. Dika kakak kelas di sekolahku,
perkenalanku dengannya terjadi tidak di sengaja. Kita tidak sengaja
bertemu pas jam pulang sekolah. Saat itu aku sedang mengerjakan tugas
bersama ketiga sahabatku, dan waktu itu ada tugas yang sama sekali tidak
kami mengerti. Dan secara tidak sengaja aku melihatnya yang tengah
duduk sendiri tak jauh dari tempat kami yang sedang mengerjakan tugas.
Aku mencoba menghampirinya, berniat untuk meminta bantuan kepadanya. aku
menyukainya pada pandangan pertama. kita Semakin dekat, bahkan sangat
dekat. jauh sebelelum aku bertemu dengannya, aku sudah mengenalnya lewat
mimpi dan doa-doaku selama ini. dia adalah jawaban dari doa-ku. Awalnya
aku bertanya untuk apa kita dipertemukan? Jawabannya takdir. Yaa
takdir. Takdir yang membawa aku ke tempat itu, tempat dimana Dika tengah
sendiri dan aku rasa Dika membutuhkan seseorang. Perlahan-lahan aku
mendekatinya, ingin mengenalnya lebih jauh lagi. Awalnya Dika menolak,
cuek, dan acuh tak acuh. Namun pada akhirnya takdir pula lah yang
menyatukan aku dan Dika seperti sekarang ini. Aku bahagia dengannya,
sangat bahagia.
From: Sipit
Aku pengen ngomong sesuatu. Pulang sekolah aku tunggu kamu di deket post satpam.
Pesan singkat darinya masuk ke handphone ku. aku membacanya. aneh
pikirku dalam hati. kenapa mau ngomong aja harus bilang dulu? aku
merasakan ada sesuatu yang tidak beres. Sepulang sekolah ku pun segera
bergegas menuju post satpam. Dia tengah berdiri sana, seperti gelisah
menungguku. Mungkin dia sudah lama menunggu.
“mau ngomong apasih?” kataku sambil menghampirinya yang sedang berdiri di dekat post satpam.
“Sini duduk” balasnya sambil membersihkan teras di depan post satpam
itu. aku menurut, aku duduk di sampingnya. Jarak antara kami jauh, aku
tak ingin duduk dekat dengannya. Karena takut jika ada guru ataupun
murid yang lain, bisa menimbulkan fitnah.
“aku tau saat kamu perhatian padaku, kamu pun ingin diperhatikan. aku
tau saat kamu menunggu lamanya diriku, kamu pun mau aku melihat
perjuanganmu. aku tau saat kamu melihat orang lain begitu akrab, kamu
ingin kita seperti mereka. aku tau saat kamu kecewa padaku, karena kamu
kecewa bukan 1 kali tapi berkali-kali. aku tau saat kamu tak bicara pada
ayahmu bahwa kita pacaran, karena kamu takut ayah kamu bakal ngelarang
itu. aku tau kamu begitu sayang padaku saat karyamu tentangku aku lihat.
Dan aku tidak tahu apakah akan bisa membalas kasih, sayang dan cintamu
yang tulus itu” suaranya terasa berat terdengar. Seperti menahan
sesuatu. Dika menatapku, hanya saja aku memalingkan wajahku. Aku tak
ingin melihat raut wajahnya yang sedih itu.
“tapi seenggak nya kamu juga harus bisa bagi waktu buat aku. Sedikit
aja” jawabku. Aku sama sekali tidak berani menatap matanya, terasa berat
jika aku harus melakukan itu.
“maaf ya kalau selama ini aku jarang merhatiin kamu. Kamu tau kan kalau
aku sibuk? Tapi kamu harus inget. Aku nggak selamanya sibuk, pasti masih
ada waktu untuk kita bisa berdua. Percaya sama aku” ucapnya “aku tau
aku salah, tapi tolong ngertiin aku” lanjutnya. Pandangannya menerawang
jauh. Entah apa yang ada dalam pikirannya, aku tidak tahu itu.
“aku mau pulang, aku nggak mau debat lagi sama kamu. Aku cape” ucapku
seraya berdiri dan meninggalkan dia sendirian di tempat itu. jujur aku
takut, aku takut kehilangan dia. Sikapnya akhir-akhir ini sungguh
berbeda, jadi semakin cuek saja.
Sikap Dika benar-benar semakin berubah drastis. Apalagi semenjak dia
mengetahui bahwa aku sangat dekat dengan saudara laki-laki ku, Rizky.
Juga kalau aku masih sering berkomunikasi dengan Rudi.
“saudara aku cowok semua. Jadi wajar kalau aku deket sama mereka. Kamu
percaya sama aku. Aku nggak punya perasaan sama sekali sama mereka”
kataku mencoba menjelaskan saat dia menanyakan hal ini. Namun tetap saja
dia salah paham dengan semuanya. Aku hanya bisa pasrah.
Aku dan Dika sering ribut akhir-akhir ini. Hubungan kami merenggang,
seperti terhalang sesuatu, entah itu apa. Dika yang dulu perhatian, kini
semakin cuek kepadaku. Pernah aku menanyakan hal itu kepadanya, hanya
saja pasti dia menjawab pertanyaanku dengan sebuah pertanyaan lagi.
“harusnya kamu juga sadar kenapa aku bisa kaya gini. Itu karena kamu
juga. Kamu tuh kaya anak kecil. Lama-lama aku bosen sama sikap kamu”
ucapnya emosi.
“aku sadar aku egois, aku kaya anak kecil. Itu semua karena aku cinta
sama kamu, aku sayang sama kamu. Dan aku ngga mau kehilangan kamu” aku
sudah tidak mampu menahan airmata ini. Mataku berkaca-kaca. Sebutir air
bening keluar dari sudut mataku. Ya aku menangis. Menangis di depannya.
Dia menatap aku yang menangis di depannya. Dia meminta maaf kepadaku,
tapi aku hanya diam tak menghiraukan ucapannya. Sepulang dari bertemu
dengannya. Aku sama sekali tak menghubunginya, meskipun dia berkali-kali
menghubungiku, namun aku tak menghiraukannya.
Aku menceritakan kejadian ini kepada ketiga sahabatku ketika kita bertemu di sekolah.
“aku juga udah nebak dari awal Nis, kamu sama dia pasti bakal sering
berantem gini. Bakal sering putus nyambung, dan itu semua karena sikap
kamu sendiri” ucap Gita memulai percakapan.
“hush kamu nggak boleh ngomong gitu Git. Dan kamu Nis, kamu harus inget.
Perjuangan dan usaha kamu buat ngedapetin dia itu nggak gampang. Kamu
nggak boleh nyerah gitu aja. Kamu harus sabar, makanya kamu harus
berubah sedikit demi sedikit. Kamu pasti bisa, kan nggak ada yang ngga
mungkin kalau kita mau usaha. Buang sikap kamu yang kaya anak kecil itu”
ucap Fania mencoba menenangkanku. “betul tuh” timpal Siska. Lega
rasanya kalau semua masalah ini sudah aku ceritakan kepada ketiga
sahabatku. Segala sesuatu yang berhubungan dengan Dika, selalu saja aku
ceritakan kepada ketiga sahabatku. Meskipun Dika tidak menyukai hal ini,
dia tidak suka kalau aku menceritakan tentangnya kepada ketiga
sahabatku. karena sifatnya yang cenderung cuek, tertutup dan pendiam
itu. “Aku cuma nggak mau kalau entar banyak yang tau kita pacaran” ucap
Dika waktu itu.
Hari kamis, aku ada jadwal latihan ekstrakurikuler hari ini. Aku
mengikuti eskul Marching Band. Aku sangat menyukai musik, itulah
alasanku memilih eskul ini. Kebetulan pula hari ini Dika juga ada jadwal
eskul, dia mengikuti eskul silat di sekolah.
“Nisa, kalau kamu udah pulang eskul duluan tungguin aku ya. Kita pulang
bareng” ucap Fania sambil berteriak dari kejauhan ketika aku sedang
berjalan ingin sholat di masjid sekolah.
Latihan hari ini sama saja dengan hari-hari sebelumnya. Bermain alat
musik. Mempelajari PBB dalam Marching Band. Dan rutinitas selesai
latihan adalah sharing bersama para senior. Latihan hari ini selesai,
aku berjalan menuju ke depan sekolah. Namun belum sampai di depan
sekolah, tiba-tiba hujan besar. Aku pun berlari meneduh di dekat post
satpam.
Fan, kamu dimana? Latihannya selesai belum? Aku udah pulang nih, lagi
neduh deket post satpam. Cepet kesini ya kalau kamu udah pulang
latihannya.
Kurang lebih seperti itulah isi pesan singkat yang aku ke kirim ke
Fania. Aku menunggunya, lama sekali. Sambil menunggu Fania, aku melihat
hujan. Lamunanku teringat kembali pada masa 2 tahun lalu bersama Rudi.
“Hujan punya cerita tentang kita” pikirku dalam hati. Aku terbangun dari
lamunanku ketika suara handphone berbunyi. Aku melihat layar itu
baik-baik. nama Rizky tertera jelas sana.
“ya Haloo” sapaku dengan keras, tak mau kalah keras dengan suara hujan ini.
“kamu ada dimana? Udah sore kok belum pulang? Ibu kamu nyariin tuh,
orang tuh kasih kabar tah apa!” suaranya membuat telingaku bising. Huh
Rizky kebiasaan! Dia paling cerewet kalau semuanya yang berhubungan
dengan aku.
“ya sorry kalau aku nggak ngabarin, ini baru pulang eskul. Terus pengen
pulang ujan, jadi ya udah nunggu reda dulu deh…” jawabku datar.
“apa? Latihan eskul? Heh dibilangin kamu tuh jangan pernah ikut kegiatan
apapun di sekolah. Kamu tau sendiri kan kamu tuh nggak boleh kecapean,
kamu lupa sama kejadian kemaren?” Rizky terus berbicara tapi aku malah
tak mendengarkannya. Aku teringat dengan kata-kata Rizky yang tadi.
Waktu liburan kemarin aku masuk rumah sakit, efek kecapean dan banyak
beban pikiran. Malamnya aku berantem sama Dika. Dan pagi-pagi entah
kenapa aku mimisan banyak sekali, padahal siangnya aku ada janji dengan
Gita ingin main ke sekolah. Tapi dengan terpaksa aku nyuruh Rizky buat
memberitahu ke Gita kalau acaranya BATAL.
“hey tengil, aku ngomong didengerin nggak sih? Ngapain diem? Pokonya
sekarang aku ke sekolah jemput kamu ya!” suaranya membentak.
“mmm, eh abis suara kamu berisik sih. Nggak usah aku masih bisa pulang sendiri kok.”
KLIK!
Aku terpaksa menutup telpon dari Rizky. Tiba-tiba aku dikagetkan
dengan keberadaan Fania di sampingku. Dia hanya tertawa melihat ekspresi
wajahku yang kaget.
“apaan sih Fan. Gak lucu tau! Eh pulangnya entar ya. Ujannya belum reda,
aku juga mau sekalian nunggu Dika latihan silat. Dika udah selesai kok,
bentar lagi pasti kesini. Mau yaa nemenin aku? Pleaseee…” aku memasang
tampang melas sambil merengek seperti anak kecil di depan Fania supaya
dia mau menemaniku.
“hmm gimana ya? Ya udah deh iya gak papa. Daripada entar kamu bawel ke
aku” kata Fania sambil tertawa. Fania memang yang paling mengerti aku.
Dia terlihat lebih dewasa dariku, terutama sikapnya. Jadi jika bersama
dia, aku seperti anak kecil saja. Ketika hujan sudah mulai reda, dan
hanya gerimis yang ada.
“eh itu Dika” Fania menunjuk ke Dika yang sedang berjalan menuju
kesini. “Kamu sama dia jalan duluan yaa, aku mau beli minum dulu di
depan sekolah” ucap Fania sambil meninggalkan aku. Kalau ada Dika pasti
Fania selalu pergi, dia selalu memberi kesempatan untuk aku dan Dika
supaya bisa berdua.
“eh Fan jangan gitu sih” aku mengejar Fania ke depan. Aku tidak biasa
berdua dengan Dika. Jadi aku memutuskan untuk menunggu Fania.
“ayo katanya mau pulang bareng. Mau pulang bareng nggak?” sapa Dika.
Yang kemudian disusul temannya yang berada di belakang Dika. Aku marah,
kesel, kecewa pada Dika. Padahal tadi kan kita sudah janji ingin pulang
bareng. Tapi kenapa dia malah bersama temannya?
“nggak, duluan aja!” jawabku dengan ketus. Dan Dika pergi begitu saja, seperti tidak punya salah sama sekali.
Aku marah dan sangat marah. Refleks aku membuang handphone ku ke jalan.
Aku menangis. Bukan hanya sekali Dika melakukan hal seperti ini
kepadaku. Tapi berkali-kali. Dika selalu seenaknya membatalkan janji
begitu saja, tanpa alasan! Fania langsung berlari ke arah ku. Dia
mengambil handphone ku yang pecah di jalanan, dia juga mengambil Card
yang jatuh ke selokan.
“Nisa hey! Gak usah kaya anak kecil, bisa kan? Liat tuh HP ancur
gitu. kalau ngelakuin sesuatu tuh mikir dua kali coba. Udah ayo kita
pulang. Jangan nangis lagi” ajak Fania. Aku menurut. Aku berjalan di
belakangnya. Entah apa yang sudah aku lakukan tadi, aku benar-benar
marah dengan Dika. Dika jahat banget! Sepanjang jalan aku hanya
menangis.
“Dika jahat Fan. Dia seenaknya gitu sama aku, dia pergi gitu aja
tadi. Padahal kan tadi dia udah janji mau pulang bareng, tapi tadi apa
coba” kataku membela diri.
“pergi gitu aja? Hey tadi aku liat Dika. Dia tuh nawarin sama kamu, tapi
kamunya aja yang nolak!” ucap Fania yang membuatku langsung terdiam.
Fania benar, tapi tetap saja Dika yang salah.
“tapi Fan” suaraku terputus. “tetep aja Dika yang salah. Dika nggak
pernah peka sama perasaan aku, dia nggak pernah mau ngertiin aku.
Apa-apa harus selalu aku yang ngertiin dia. Kenapa dia nggak pernah
ngertiin aku?” tangisku semakin menjadi-jadi.
Sesampainya dirumah, aku mengaktifkan nomor dengan menggunakan
tablet. Handphone ku rusak saat aku banting tadi. Tiba-tiba saja ada
messages masuk. Dari Dika, aku kaget saat membuka pesan darinya.
From Sipit
JAWAB JUJUR! Tadi kamu banting handphone kamu? Apanya yang rusak? Kamu beli handphone itu harga berapa hah?
Aku berfikir, darimana Dika tahu kalau handphone ku rusak. Pasti Fania yang memberitahu kepada Dika.
To Sipit
Iya, aku nggak tau sayang. Udahlah nggak usah dibahas, kan masih ada tablet. Kita masih bisa smsan kok ini. Maaf yaaa
Beberapa menit kemudian Dika membalas pesanku.
From Sipit
Sikap kamu tuh kaya anak kecil. Aku nggak suka kalau kamu kaya gitu.
Udah mending kita PUTUS aja. Lama-lama aku bosen sama sikap kamu itu.
dan perlu kamu tau ya selama ini aku nggak pernah cinta sama kamu, dan
nggak akan pernah cinta. Aku Cuma kasian sama kamu, dan rasa sayang aku
ke kamu tuh Cuma karena aku ingin ngebales kebaikan kamu aja. Dan
sepertinya sekarang rasa aku ke kamu udah beku, seperti ke Riska dulu.
Aku udah nggak ada rasa lagi sama kamu. Aku Cuma nganggep kamu sebagai
adik aku, maaf.
RISKA? Kenapa harus ada nama itu? Riska itu sepupu Dika. Mereka
pernah dekat, bahkan dekat sekali. Namun semuanya berbeda ketika Riska
lebih memilih pacarnya daripada Dika. Sejak saat itu mereka menjadi
jauh. Dika membuang jauh-jauh rasanya ke Riska. Padahal Riska selalu
memohon agar Dika tidak melakukan hal itu. namun percuma, sikap Dika
keras, dia tidak mungkin akan membatalkan keputusnnya.
Dan sekarang Dika akan melakukan hal itu kepadaku? Aku tidak mau, aku
begitu mencintai dan menyayanginya. Aku tak ingin Dika melakukan itu.
kenapa secepat ini Dika membuang rasa itu, benarkah? Aku menangis, di
sudut kamar ini. Tak ada yang tahu. Aku mencoba menulis pesan singkat
kepada Dika, dengan sisa tenagaku. Air mataku tak kunjung berhenti.
To Sipit
Dalam hubungan ini biarkan saja hanya aku yang mempunyai rasa cinta dan
sayang, kamu cukup merasakannya. Kamu tak perlu membalas rasa itu. aku
berharap semoga aku kuat bertahan dengan semua ini. Dan jika suatu saat
nanti aku merasa lelah dengan semuanya, maaf aku harus pergi, aku minta
maaf sayang. Tapi aku mohon, aku nggak ingin kita putus. Kasih aku
kesempatan.
Dika membalasnya lagi.
From Sipit
Sebenernya aku bisa aja ngasih kesempatan lagi ke kamu, tapi percuma.
Kamu pasti bakal ngulangin hal itu lagi. Aku minta waktu, aku pengen
sendiri dan nggak mau diganggu. Maaf.
Belum selesai masalah antara aku dan Dika, sekarang bertambah lagi
masalah besar. Pacar Rizky menelponku, dua hari yang lalu Rizky
mempunyai pacar. Dia menceritakan semuanya.
“eh asal lo tau ya. Rizky pacaran sama gue tuh karena kepaksa. Dia
pengen manas-manasin lo doang! Dia cerita semuanya tentang lo. Dia nggak
mau pacaran dari awal gara-gara lo lah, lo adalah orang yang spesial di
hati dia lah. Dan masih banyak lagi. Gue enek kalau harus nyeritain
semuanya ke lo. Jadi mending lo tanya sendiri aja sama Rizky nya. Gue
bosen denger nama lo yang selalu dia sebut di depan gue” aku terhenyak
mendengar perkataan perempuan ini. Aku benar-benar tidak menyangka kalau
Rizky mempunyai perasaan ini kepadaku. Kita ini saudara, kita sangat
dekat. Dan rasanya mustahil kalau ada rasa cinta itu. tangisku semakin
memuncak, kenapa semuanya serumit ini?
Keesokan paginya aku merasa tidak enak badan, tubuhku tidak fit.
Kejadian semalam benar-benar membuatku stres. Aku yang biasanya
berangkat sekolah bareng sepupuku, Rizky. Kali ini aku berangkat
sendirian, aku masih ingat betul suara perempuan yang semalam menelponku
sambil menangis, mulai sekarang aku harus menjaga jarak dengan Rizky,
aku tak ingin akan semakin banyak orang yang tersakiti dengan kedekatan
kami, termasuk Dika. Ketika memasuki gerbang sekolah, aku melihat Dika.
Aku hanya bisa melihatnya, tanpa bisa menyentuhnya sama sekali.
Sudah seminggu lebih Dika dingin kepadaku, sikapnya dingin. Aku
berusaha menghubunginya lewat sms tapi tak pernah dibalas, ditelpon tak
pernah diangkat, di chat facebook hanya dilihat. Cuma tanda ceklis yang
aku lihat disana, itu berarti Dika sudah melihatnya, tapi kenapa dia
tidak membalas sama sekali? Setiap kali bertemu di area sekolah, dia
hanya diam. Aku mencoba menyapanya dan tersenyum, tapi Dika tidak
membalasnya sama sekali. Aku semakin bingung dengan semuanya. Status
hubungan antara aku dengan nya pun tidak jelas. Entah masih berpacaran
atau sudah kandas begitu saja karena hal konyol yang aku lakukan waktu
itu.
Bahkan akhir-akhir ini aku sering melihat dia bersama perempuan lain.
Entah ada status apa di antara keduanya. Aku tak pernah ingin
bersuudzon, hanya saja bukti itu selalu terlihat nyata di depan mata.
Hanya Allah yang Maha Mengetahui. Aku hanya berharap semoga apa yang aku
lihat tidak seperti apa yang aku bayangkan. Seminggu yang lalu dia pun
memutuskan untuk mengakhiri “HUBUNGAN” ini.
Dan sampai sekarang hatiku masih tetap untuknya. Terkadang kalau
berfikir secara logika. Untuk apa aku berpacaran dengan orang yang
bahkan dia pun tidak pernah cinta kepadaku. Tapi begitulah perempuan,
segala sesuatunya selalu menggunakan perasaan, tidak peduli seberapa
hebatnya logika. Yaa aku tidak bisa membohongi perasaanku kepadanya. Aku
begitu mencintai dan menyayanginya. Sampai saat ini…
Ternyata benar.
Cinta tak pernah meminta, Ia senantiasa memberi
Meskipun terkadang apa yang diberikannya tak pernah dihargai
Namun jika sudah cinta
Maka seperti apapun rasa sakit, cemburu dan kecewa
Semua akan hilang ketika mengingat cinta itu
Hanya saja jika cinta selalu disia-siakan
Maka dia akan memilih untuk pergi.
Dan aku sadar sekarang.
Aku terlalu banyak merasakan sakit daripada bahagia
Aku harus pergi…
Semua rasa lelah ini sudah tak sanggup untuk aku rasakan lagi
Biarkan aku sendiri bersama cinta ini
Biarkan hanya aku yang mempunyai rasa cinta ini
Karena Cinta selalu memberi bukan meminta dan tanpa mengharapkan sebuah balasan.
INFO
HAI SEMUA, SELAMAT DATANG DI BLOG SAYA. TOLONG BERI COMMENT BAGI YANG MEMBUKA BLOG INI UNTUK PENILAIAN KOMPUTER SAYA. BAGI YANG MENGCOMMENT BLOG SAYA HARAP MEMBANTU SAYA MEMPROMOSI KAN KE TEMAN2 ANDA. TERIMA KASIH:)
CLOCK
Langganan:
Posting Komentar
(
Atom
)
Tidak ada komentar :
Posting Komentar