INFO

HAI SEMUA, SELAMAT DATANG DI BLOG SAYA. TOLONG BERI COMMENT BAGI YANG MEMBUKA BLOG INI UNTUK PENILAIAN KOMPUTER SAYA. BAGI YANG MENGCOMMENT BLOG SAYA HARAP MEMBANTU SAYA MEMPROMOSI KAN KE TEMAN2 ANDA. TERIMA KASIH:)

CLOCK

Selasa, 13 Januari 2015

Indahnya Bunga Mawar Tapi Sakit Pada Durinya

Esok paginya, aku mengajak mereka ke mall yang biasa aku datangi bersama Daniel dan Hengki. Karena mall ini pusat perbelanjaan terlengkap dan terbagus di kota ini. Aku menyuruh lima gadis itu berbelanja sepuas mereka. Aku memberi mereka masing-masing satu ATM yang berisi uang 10 juta. Mereka sangat senang sekali. Aku memberinya waktu 3 jam lebih dari cukup untuk mereka.
Aku segera meninggalkan mereka bersenang-senang. Dari seleksi hari ini, aku ingin tahu pola pikir mereka tentang uang. Bukan berarti aku tidak suka cewek matre. Jadi cewek matre itu wajar tapi jangan terlalu over.
Aku segera menuju ke tempat makan untuk menunggu mereka kembali. Sambil lalu aku menelfon Daniel dan Hengki untuk segera menemaniku. Aku mencari pelayan untuk memesan makanan. Aku terkejut melihat sosok gadis yang sedang makan dengan irama musik di telinganya dengan headset.
Luvy? Kenapa dia tidak belanja? Dia makan dengan santainya. Dia gadis yang unik. Dan paling membuatku terkesan suka, aku melihat sosok Dina pada dirinya. Tapi dia buka Dina yang cerewet dan ceria. Dia Luvy yang manis dan selalu tenang. Aku menghampirinya.
“Hay” kataku menyapanya dengan lembut sambil duduk di kursi pas berhadapan dengannya.
Dia agak kaget dan tak percaya melihatku menghampirinya. Headset yang ada di kedua telinganya dilepas begitu melihatku. Dia tersenyum simpul dan mengatur nafas untuk tidak terlihat gugup di depanku. Aku tertawa ringan dengan sikapnya.
“Ngapain kamu disini?” tanya Luvy dengan lembut.
“Lho, bukannya aku yang harus bertanya begitu? Kamu diberi kesempatan belanja gratis sepuasnya malah enak-enakan duduk disini!” kataku dengan nada bercanda.
“Yeah, emang sayang banget kalau tidak dipakai. Tapi aku bingung mau beli apa! Dari pada pusing sendiri mending makan sendiri” jawabnya sambil tertawa lepas.
Waw, tawa pertama yang mengagumkan yang pertama kali aku lihat. Untung aku masih bisa mengatur ekspresi wajah agar tidak terlalu over menatapnya.
“Kenapa kamu gak beli semua yang ada di pikiran kamu sekarang?” tanyaku ingin tahu lebih pasti.
“Masalahnya aku sedang tidak memikirkan sesuatu yang ingin aku beli. Menurutku, belanja itu kegiatan untuk memenuhi kebutuhan yang dibutuhkan. Untuk sekarang aku tidak memiliki kebutuhan apapun. Dan… nih ATMnya aku kembaliin. Makasih ya” katanya dengan senyum tulus sambil menyodorkan kartu ATMnya padaku. Aku mengambilnya untuk mengecek kembali nanti.
Tak sengaja aku menatap makanan dan minuman yang dipesan Luvy. Stik kentang dan jus mangga? OMG, itu kan makanan dan minuman favorit Dina. Lagi-lagi aku teringat Dina. Gak mungkin Luvy itu Dina!
“Kamu suka stik kentang dan jus mangga?” tanyaku lagi.
“Iya, aku suka makanan yang berbahan kentang dan minuman rasa mangga. Aku paling tidak suka makanan yang berbau bawang dan sayuran”
“Wah, sama dong” kataku menyimpulkan. Maksudku selera Luvy, Dina, dan aku sama.
Obrolan aku dan Luvy terganggu dengan kedatangan duo tengil Daniel dan Hengki. Yang bikin aku semakin kesal dengan sikap mereka yang pura-pura tidak mengerti dengan aba-abaku untuk menyuruhnya pergi, padahal itu pernah aku lakukan saat aku bersama Dina.
3 jam telah berlalu. Gadis-gadis itu kembali dengan tas belanjaan yang banyak. Mereka memberikan kartu ATM nya padaku. Aku mengecek sisa uang lalu aku kembalikan pada mereka semua, termasuk Luvy.
Malamnya, berlanjut pada acara penentuan. Satu nama yang kupilih yaitu “Luvyana maudi”. Aku dan lima gadis makan pada meja yang sama. Lalu aku memberikan amplop yang salah satunya berisi kata I LOVE U dan amplop lain berisi uang lima juta dan tiket pergi ke paris dengan perlengkapan istimewa sebagai tanda maaf.
Aku tenang melihat wajah senang di antara mereka yang aku tolak. Mereka pulang dengan mengucapkan banyak-banyak terimakasih. Aku segera menghampiri Luvy yang berdiri tidak jauh di tempatku berdiri. Aku genggam tangannya mengajaknya ke suatu tempat. Dia menurut saja. Tangannya sangat dingin dan agak gemetaran. Aku tertawa kecil.
Kami tiba di sebuah taman yang begitu banyak bunga mawar dengan bermacam-macam warna. Ada warna merah, putih, kuning, dan ungu. Lampu taman dimana-mana. Semua terkesan sangat romantis.
Luvy tercengang melihat keindahan yang dilihatnya malam ini. Dia mengelilingi taman itu dengan memegang bunga demi bunga yang memiliki warna berbeda. Jika ini mimpi, mungkin ini pertama kali dia bermimpi sangat indah dan tak ingin cepat-cepat bangun.
“Hitunglah setiap mawar dengan warna yang berbeda!”
Luvy menghitung semua bunga itu dengan teliti. Berungkali perhitungannya meleset. Membuat dia semakin pusing karena mengelilingi taman. Empat kali dia mengulang menghitung untuk memastikan. Tetap saja meleset. Aku tertawa melihat tingkah Luvy yang konyol dan lucu.
“Ada 22 mawar merah, 12 mawar putih, 2013 mawar kuning dan 427 mawar ungu! Yang artinya aku menemukan cintaku pada tanggal 22 bulan 12 dan pada tahun 2013. Dari 427 gadis yang datang pada hatiku, hanya kamu yang pantas mengisi hidupku. Dan taman ini aku persembahkan untukmu sebagai bukti cintaku untukmu” kataku memegang kedua tangannya.
“Makasih atas semuanya” ucapnya lalu menunduk malu.
“Luv…”
“Ya?”
“Kamu mau gak jadi pacar aku? Eh maksudku pacar untuk selamanya!” kataku penuh dengan ketulusan yang mendalam.
Luvy mengangguk. Aku meloncat-loncat tak bisa menahan kebahagiaanku yang telah mampu menemukan cinta kedua dan mungkin saja cinta terakhirku. Aku tak peduli Luvy mau tertawa sekeras itu, yang penting dia sudah bisa kumiliki.
Mama sangat senang saat aku memperkenalkan Luvy esoknya. Aku tak lagi memikirkan Dina. Mama dan Luvy mudah akrab. Bahkan mereka selalu membuat rencana belajar masak bareng. Kulihat mama yang selalu menikmati hari-harinya dengan Luvy.
Aku sudah membicarakan tentang rencana melamar Luvy setelah dia wisuda. Luvy selalu membuat aku tertawa, kagum, haru. Bahkan disaat aku ada masalah dengan kedua sahabatku, dia yang membantuku menyelesaikannya. Dia bidadari hatiku.
Mawar yang melambangkan cintaku pada Dina dulu. Tapi sekarang mawar melambangkan cintaku untuk Luvy seorang. Setiap hari aku selalu memberinya tanaman bunga. Sampai-sampai taman bungan di belakang rumahnya penuh dengan bunga mawar yang kuberi.
Dia adalah harapan hidupku. Tidak ada rahasia yang harus kututup-tutupi darinya. Bahkan aku menceritakan semua tentang Dina yang menghilang begitu saja. Tanpa sedikit marah atau kecewa dia mendengarkan dan mencoba mengerti tentang aku dan Dina.
Tiga bulan berlalu begitu indah. Tapi, berubah begitu saja saat aku bertemu dengan Dina di sebuah pameran lukisan. Pada saat itu aku sedang bersama Luvy. Tanpa memperdulikan keberadaan Luvy di sampingku, aku menghampirinya. Walau aku tau Luvy merasa dihina saat itu. Tapi hati memaksaku begitu.
“Dina…” panggilku sedikit gemetar.
“Eza! Hey, gimana kabarmu? hampir tiga tahun kita gak ketemu. Aku kangen sama kamu. Maaf ya, Selama ini aku tak bisa memberi kabar. Selama ini aku ada di Australia, melanjutkan study. Rencananya begitu mendadak, hingga aku lupa bawa alat-alat komunikasi. Jadi aku gak bisa menghubungimu” katanya menjelaskan dengan wajah bersalah.
“Tidak apa-apa”
“Dengan siapa kamu kesini? Aku tiba disini baru tadi malem, jadi belum bisa mampir-mampir ke rumahmu”
“Tadi aku sama…” kataku terhenti mencari Luvy yang menghilang.
“Ya?” tanya Dina tak dengar.
“Eh, Kamu tinggal dimana sekarang?” kataku mengalihkan pembicaraan. Dalam hati aku merasa berdosa pada Luvy.
“Di rumah Om-ku. Aku boleh ke rumahmu sekarang?” tanya dia menawarkan.
“Boleh, boleh banget!” kataku semangat.
Sesampai di rumah, mama sangat kaget melihat Dina bersamaku. Dina berusaha memeluk mama tanda rindu tapi mama malah menyela. Dina selalu bersikap baik, tapi mama sebaliknya. Aku merasa tidak enak sama Dina. Saat Dina ingin pulang, dengan senang hati aku mengantarnya. Lalu kembali ke rumah. Wajah mama tetap sinis padaku.
“Luvy mana? Bukannya dia tadi bersama kamu?” tanya mama kasar.
“Dia pulang duluan, Ma” jawabku berbohong.
Aku mencoba menelfon Luvy, tapi Hp-nya tak pernah aktif. Masa bodoh! Yang kupikirkan sekarang selalu ingin di dekat Dina. Walau terkadang rasa bersalah terus menghantui. Hari-hariku habiskan bersama Dina seorang.
Setiap malam tiba, aku selalu memikirkan Dina dan Luvy. Bahkan aku pernah bermimpi melihat Dina dan Luvy tenggelam. Dan anehnya yang kutolong itu Luvy bukan Dina. Rasa bersalah terus menghantui.
Tujuh hari berlalu dengan cepat. Perasaanku tetap gundah dan bingung. Seringkali aku melamun sendiri. Aku tak sadar bahwa aku rindu Luvy dan senyum mama. Tapi untuk jauh dari Dina aku tak bisa.
Dina pun tau semua tentang aku dan Luvy. Suatu ketika dia mengajakku ketemuan di taman tempat aku dan Dina jadian. Dia menjelaskan apa yang dia dengar dari mama dan teman-temanku tentang Luvy. Berkali-kali aku minta maaf.
“Za, aku ingin kamu tau sesuatu” katanya kemudian.
“Apa?”
“Sebenarnya… selama ini aku sakit Leukimia sudah stadium 3. Aku diajak ayah ke Australi untuk pengobatan. Ada seorang dokter asal indonesia juga, tapi berprofesi dokter disana. Dia masih muda. Dia yang merawat dan memperjuangkanku agar tetap bisa hidup sampai sekarang. Ayah menyuruhku untuk menikah dengannya. Dan akhirnya aku mau. Tiga hari lagi weddingnya. Aku kesini hanya untuk memberitahu ini semua. Jadi, sangat disesalkan jika kamu menyia-nyiakan Luvy. Dia sayang sama kamu.” Penjelasan dari Dina sudah membongkar kebohongannya.
“Aku dilarang menghubungimu. Kamu ingat bunga mawar yang pernah kamu kasih ke aku. Disana, aku merawatnya. Namun disaat aku parah, tanaman itu kering. Hanya tinggal satu bunga yang masih tetap indah. Dan saat aku memetiknya, aku tertusuk durinya yang sangat menyakitkan. Bunga itu sudah mati, begitupun cintaku padamu yang juga sudah mati” katanya mengakhiri lalu pergi begitu saja.
Aku marah. Marah pada diriku sendiri. Kenapa aku egois begini? Aku tak pernah memikirkan perasaan Luvy. Apa yang harus kulakukan sekarang?. luvy pasti sudah sangat kecewa. Maafkan aku Luvy! Tanpa sadar aku menghantam tanaman berduri di dekat kursi yang kududuki. Tanaman itu jatuh ke tanah. Tangan kiriku berdarah, tertusuk beberapa duri mawar itu. Lalu teringat lagi pada Luvy.
Aku mengendarai mobil tanpa tahu arah tujuan. Lalu aku berhenti ke taman mawar yang aku persembahkan untuk Luvy. Aku keluar dan menatap mawar-mawar itu tetap indah. Ternyata Luvy masih merawat taman ini.
Aku menangis mengingat semua yang telah kulakukan pada Luvy. Aku sangat egois. Aku lebih mementingkan Dina yang sudah tidak cinta sama aku. Sedangkan Luvy yang mencintaiku dengan tulus malah aku sia-siakan.
“Waduh, cowok kok cengeng” suara lembut seorang gadis yang sangat kukenal kudengar di belakang tubuhku.
Aku memutar badan ke arah suara itu. Kulihat wajah manis tersenyum padaku. Aku menunduk malu. Aku malu sangat malu. Aku yang menyakitinya menangis sedangkan dia yang disakiti masih bisa tersenyum.
“Maafkan aku!” kataku lirih.
“Tanganmu kenapa?” tanyanya panik memegang tanganku yang berdarah.
“Tertusuk duri mawar!” jawabku.
Dia membalut tanganku dengan sapu tangannya. “sakit?” pertanyaan yang keluar dari mulutnya begitu sangat perhatian.
“Ini tidak seberapa dengan perasaan sakit yang selama ini kamu rasakan karena keegoisanku, Maafkan aku!”
“Iya, aku maafin. Sekarang kamu tau kan? Indahnya bunga mawar tapi sakit pada durinya. Indahnya sebuah cinta. Tapi jika kita lengah, sakit yang kita rasakan. Itu yang sudah kamu rasakan. Aku yakin kamu tidak akan mengulanginya lagi”
“Yeah, maafkan aku?”
“Hmmm, sekali lagi bilang maaf dapet hadiah piring ya!”
Dia selalu bisa membuatku tertawa. Tapi kenapa aku malah membuatnya sakit hati karena keegoisanku. Luvy, gadis yang selama ini aku cari. Dia yang pantas mengisi hari-hariku. Tanpanya aku bagaikan mawar yang tak pernah disiram.
Dia mengantarkanku pulang dengan mengemudikan mobilku. Sesampai di rumah, mama sangat senang melihat kedatang Luvy lagi di rumahku. Mama mengobati tanganku penuh dengan omelan yang tak ada habisnya. Luvy tak berhenti tertawa dengan sikapku yang konyol gara-gara omelan-omelan mama.
Sejak peristiwa itu, aku segera melamar Luvy tanpa menunggu wisudanya. Rencana pernikahan dipercepat. Kejadiaan ini cukup jadi pelajaran untukku agar aku tidak lagi mempermainkannya. Aku sayang LUVY!

Tidak ada komentar :

Posting Komentar