INFO

HAI SEMUA, SELAMAT DATANG DI BLOG SAYA. TOLONG BERI COMMENT BAGI YANG MEMBUKA BLOG INI UNTUK PENILAIAN KOMPUTER SAYA. BAGI YANG MENGCOMMENT BLOG SAYA HARAP MEMBANTU SAYA MEMPROMOSI KAN KE TEMAN2 ANDA. TERIMA KASIH:)

CLOCK

Senin, 12 Januari 2015

Senja di Kota Empek Empek

Jam di kamar Abel sudah menunjukkan pukul delapan pagi, namun suasana dingin kota Bandung masih berhasil membuat gadis berlesung pipi ini enggan untuk bangkit dari tempat tidurnya. Beruntung hari ini libur, jadi ia tidak perlu menyiapkan bantal seperti biasanya untuk melindungi telinga dari teriakan mamanya.
Kicauan burung dari atas pohon di samping jendela kamar tidak berhasil membuat gadis ini untuk bangkit dari tempat tidur, ia masih nyaman memeluk boneka Doraemon nya. Sampai akhirnya bunyi Handphone yang dari tadi berdering terpaksa mengharuskan Abel untuk bangkit, dengan nyawa yang belum terkumpul sepenuhnya ia meraih handphone yang tergeletak di meja samping kasurnya.
“Siapa sih pagi-pagi gini udah nelpon”
Dengan mata yang masih setengah terbuka Abel membaca nama yang tertera di layar hapenya “Sherly Calling”. Dengan malas ia menekan tombol hijau dan meletakkan benda itu di telinganya.
“ABEL, lo kemana? kita udah ngumpul nih di rumah Chika, jangan bilang kalo lo masih di tempat tidur”
Teriakan Sherly dari seberang sana berhasil membuat nyawa Abel yang tadi masih setengah kini sepenuhnya sudah terkumpul kembali. Mata Abel terbelalak mencoba menelaah kata-kata Sherly tadi.
“Ngumpul? rumah Chika? astaga gue lupa sher, maaf”
“udah gue tebak, anak-anak udah pada nunggu nih Bel”
“Iya iya, gue mandi dulu ya”
Abel melemparkan Hapenya ke kasur dan langsung berlari ke kamar mandi, dia tidak peduli pada kasurnya yang masih berantakan, yang paling penting sekarang adalah ia harus cepat tiba di rumah Chika agar tidak mendengar omelan sahabat-sahabat tersayangnya.
“Kakak, ada anak-anak di ruang tamu”
Teriakan mama mengagetkan Abel yang sedang asyik di depan meja rias, ia langsung meninggalkan pekerjaannya dan segera turun ke bawah mencari sumber suara.
“Iya ma siapa?”
Tiga cewek cantik sudah duduk mantap di sofa, Sherly dengan kaos biru dan jeans selutut, Chika dengan dress silver selututnya, dan Lisa dengan kaos merah dan jeans panjangnya. Mereka bertiga memberi tatapan membunuh pada Abel yang masih memakai handuk di atas kepalanya, Abel hanya bisa diam, ia seperti seekor kijang yang siap disantap tiga singa kelaparan di hadapannya.
“Loh, kok kalian kesini? bukannya ngumpul di rumah Chika ya”
“Abel, ini udah jam berapa. Dua jam lagi pesawatnya take off, dan lo belum juga siap”
“hehe, maaf yah. tapi gue udah packing kok jadi tinggal Otw aja”
“ya udah buruan, dari rumah lo ke bandara gak deket tau”
“Mama, kakak pergi yah. doain selamet sampe tujuan”
Abel melepas handuk dari kepalanya dan langsung berpamitan dengan mama nya.
“Kita pergi dulu ya tante”
“Iya, hati-hati. Abel nya dijagain ya sher, dia suka ngilang”
“Ih mama apaan sih, ya udah ma kita berangkat dulu. Assalamualaikum “
“Walaikum salam”
Sepertinya jalanan hari ini berpihak pada mereka berempat, perjalanan menuju bandara lancar, tak ada macet, tak ada insiden apapun yang harus memakan waktu mereka.
Suara dari pramugari yang menjelaskan bahwa pesawat siap terbang sudah terdengar, empat sahabat ini tidak sabar untuk sampai ke kota tujuan mereka kali ini, kota kelahiran Chika.
“Palembang, We coming”
Teriakan Abel dan sahabatnya membuat penumpang memandang aneh pada mereka, tetapi mereka tidak peduli, mereka sangat ingin cepat sampai di Palembang, kota yang terkenal dengan makanan empek-empeknya itu.
Empat sahabat ini akan menghabiskan waktu liburan kenaikan kelas mereka di Palembang, kota kelahiran Chika. Abel memang sudah lama ingin berkunjung ke kota yang terkenal dengan jembatan ampera ini, kebetulan sekali Chika menawarkan untuk pergi ke kota ini, Abel langsung menerima tawaran tanpa berpikir lagi waktu itu.
Perjalanan menuju Palembang tidak terlalu banyak memakan waktu, hanya sekitar dua jam mereka berada di dalam burung besi itu dan sekarang mereka sudah tiba di Bandara Sultan Badaruddin II.
“Welcome to Palembang”
Suara baritone yang diyakini Abel berada di belakang dirinya itu menyelusup masuk ke lubang telinga gadis manis ini, menggelitik gendang telinga dengan suara khasnya. Abel menoleh ke belakang, memastikan pemilik suara khas itu, yang terlihat olehnya adalah seorang pria bersama wanita yang diyakini Abel adalah kekasihnya, Abel sangat yakin pemilik suara yang berhasil membuat jantungnya berdetak tadi adalah dia, pria yang sedang bersama wanita lain itu. Pria itu menoleh ke arah Abel, tersenyum manis dan berhasil membuat Abel tak bergerak.
“Woy Bel, lo masih disini aja. Anak-anak udah jalan tu”
“eh iya Lis maaf, ya udah yok jalan”

Jam dinding sudah menunjukkan pukul tujuh malam, Abel masih nyaman dengan dunia mimpinya sejak tiba dari Bandung tadi sementara anak-anak yang lain sudah siap keluar rumah untuk sekedar jalan-jalan melihat kota Palembang di waktu malam.
“Abel, bangun dong. kita mau keluar nih, kamu gak ikut?”
Chika menggoyang-goyang tubuh Abel bermaksud membuat cewek satu ini bangun, tapi usahanya gagal, Abel tidak bergerak sedikitpun, ia masih sibuk mendekap erat boneka Doraemon kesayangannya. Dengan hati dongkol, Chika berteriak tepat di telinga Abel membuat cewek ini merubah posisi tidurnya menjadi berdiri karena kaget.
“Chikaaa, apaan sih ganggu tidur aja. Gue masih capek”
“ya udah kalo gak mau ikut keluar, kita duluan ya”
“keluar? eh iya iya ikut, tunggu bentar gue mau ganti baju”
“Cepet, awas kalo lama”
Jazz biru melesat dengan kecepatan sedang membelah jalanan kota Palembang malam ini, empat sahabat ini teriak kegirangan di dalam mobil, mereka tidak sabar untuk sampai di tempat tujuan. Malam ini mereka akan pergi melihat terangnya jembatan ampera malam hari dan mencoba makanan di Restoran yang mengapung di atas sungai Musi.
“Wih ampera keren ya kalo malem gini”
“Iya bel, kapan-kapan kita kesini lagi ya Chik”
“iya iya, entar kita main lagi kesini. Ya udah yok makan dulu”
Di antara empat anak cewek ini cuma Abel yang makanannya tidak habis, anak-anak aneh karena tidak biasanya Abel tidah menghabiskan makanannya, yang mereka tau Abel adalah anak yang paling banyak makan di antara mereka berempat.
Sayang, aku telah jatuh cinta
Cinta pandang pertama
Cinta di stasiun kereta
Suara musik memenuhi sudut Restoran, Abel yang sedari tadi diam langsung menoleh ke arah panggung, perasaannya tidak salah, orang yang sedang bernyanyi itu adalah pria yang dilihatnya di bandara tadi.
“Baiklah semua, mungkin ada yang mau menyumbangkan sebuah lagu untuk menghibur pengunjung disini. Mbak berbaju biru yang duduk di pojok, mau nyanyi?”
Abel terbelalak saat melihat pria di depan itu menunjuknya, tanpa pikir panjang lagi ia langsung naik ke atas panggung dan langsung meminta pemain band untuk mengiringinya.
Mungkinkah ini bertanda aku jatuh cinta, cintaku yang pertama…
Suara merdu Abel berakhir dengan tepuk tangan semua pengunjung, ia memandang pria tadi dengan perasaan penuh harap, ia berharap akan ada kata-kata indah yang keluar dari mulut pria ini.
“Waw, suaranya lembut sekali. Terima kasih sudah menghibur pengunjung restoran ini”
Abel hanya tersenyum dan segera turun dari panggung, ia takut hatinya akan semakin meleleh jika terus berada di hadapan pria ini. Senyumnya, suaranya, bisa-bisa Abel dibuatnya pingsan di atas panggung.
“Cie, calon penyanyi kita. Baru kali ini denger lo nyanyi Bel, kenapa gak bilang sih kalo bisa nyanyi, jadi kan waktu itu kita gak usah repot-repot nyari orang buat lomba nyanyi antar kelas waktu SMA”
“Yeh, gue aja tadi gak sengaja. Gue juga gak tau kalo gue bisa nyanyi, itu respect tau. Emang suaranya bagus yah? perasaan jelek deh”
“Wah sarap lo Bel, suara sendiri aja gak tau. Udah ah yok pulang, udah malem ni”
Saat Abel hendak masuk ke dalam mobil, tiba-tiba suara yang sudah sangat dikenalnya itu memanggil, ia tidak menghiraukannya, Abel merasa itu hanya perasaannya saja. Tetapi suara itu kembali mengalun, ia menoleh ke belakang, yang benar saja pria tadi sudah ada di hadapannya.
“Mbak, boleh minta nomor Hp nya?”
“Jangan panggil mbak dong, panggil Abel aja ya”
“Oh iya, boleh minta nomor Hp nya Bel?”
“Boleh, 089844xxxxx”
“oh iya, kenalin gue Roni”
Klakson mobil mengganggu percakapan Abel dan Roni, anak-anak sudah mulai kesal menunggu, mereka sudah mengantuk. Akhirnya percakapan yang hanya berlangsung sepuluh menit itu berhenti dengan kata “Sampai bertemu lagi”.

From : 082176xxxxxx
GMorning Abel, masih di tempat tidur kah?
Abel terbangun ketika mendengar suara hapenya, dengan mata yang masih mengantuk ia mengambil hape dan membuka pesan yang sudah menghancurkan mimpi indahnya tadi.
“Siapa sih ganggu aja, ga ada namanya, mungkin fans gue kali ya”
Setelah membuka pesan dari seseorang yang tidak dikenalnya itu, Abel kembali memejamkan mata berharap mimpinya tadi berlanjut. Beberapa detik kemudian ia kembali pada posisi duduk saat ingat pria yang ditemuinya di bandara dan di restoran semalam.
To : 082176xxxxxx
Morning too, hehe iya ni tau aja
Ini Roni bukan?
Abel menekan tombol send dengan ragu, ia takut dugaannya salah. Sudah dua puluh menit ia mengirim tapi belum juga ada balasan dari orang itu, akhirnya Abel memutuskan untuk kembali pada dunia mimpinya, tidak peduli jam sudah menunjukkan pukul setengah delapan pagi. Baru saja gadis berlesung pipi ini akan tidur, hapenya kembali berdering tapi kali ini bukan sms melainkan panggilan telepon dari orang tadi.
“Halo, ini siapa?”
“Roni Bel, kamu lupa?”
“Oh iya maaf Ron, maklum penggemar ku banyak”
Abel tidak menyangka, seorang Roni sekaligus cowok yang buat dia jatuh cinta waktu pertama kali napakin kaki di Kota Palembang ini meneleponnya, ia kegirangan bukan main. Obrolan terus berlanjut sampai akhirnya Roni mengajak Abel untuk berkeliling Kota Palembang hari ini, Roni tau kalau Abel sedang berlibur disini jadi dengan senang hati ia mau menemani.
“Oh rumahnya disana, ya udah nanti jam sebelas aku jemput ya”
“Iya iya, kalau gitu aku siap siap dulu. bye!”
Dengan hati yang masih dipenuhi perasaan berbunga Abel langsung bergegas mandi dan bersiap untuk kencan, ya Abel lebih senang menyebut jalan-jalan hari ini dengan kata “Kencan”.
“Mau kemana bu? tumbenan jam segini udah bangkit dari tempat semedi, biasanya kan jam segini lo masih di atas kasur”
Suara cempreng Lisa mengagetkan Abel yang sedang di depan kaca, ia tak peduli pada perkataan Lisa, ia melanjutkan kegiatan merias dirinya, sementara Lisa yang tadi berada di depan pintu langsung masuk mendekati Abel.
“Chika hari ini ngajak ke BKB Bel, mau ikut nggak?”
“Nggak Lis, gue mau pergi”
“Kemana? lo kan nggak tau jalan sini”
“Mau Kencan”
“Sama siapa? jangan ngomong cowok yang semalem”
Abel hanya tertawa dan langsung berlari keluar kamar karena Chika sudah teriak teriak memanggil dirinya untuk memberitahu bahwa ada orang yang mencarinya di luar. Dengan cekatan ia langsung membuka pintu dan dilihatnya seorang cowok memakai kemeja Biru di depannya, maching dengan sepatu kets yang menempel di kakinya.
“Bye, gue jalan dulu ya. jangan kangen”
Lirikan mata Abel membuat tiga sahabatnya itu hanya bisa diam, mereka tidak menyangka pada pemandangan yang mereka lihat di depannya. Baru saja tiga hari mereka disini tapi Abel sudah berhasil menggaet seorang cowok yang tampilannya tidak biasa.
Di antara mereka bertiga memang Abel lah yang paling mudah mendapatkan cowok, padahal jika dibandingkan dengan anak yang lain Abel tidak terlalu cantik, hanya saja ketika mereka mengadakan survey dengan mantan-mantannya, mereka semua bilang kalau Abel itu punya daya tarik sendiri, selain senyumnya dia juga punya mata yang bisa membuat setiap cowok menaruh hati jika bertemu dengannya.
Abel semakin betah di Palembang, ia tidak mau kembali ke Bandung lagi, ia sudah sangat nyaman di kota ini, kota yang sudah mengenalkan ia pada sosok Roni, orang yang sekarang sangat dia sayang walau belum dengan status yang jelas.
Lagu ini ku nyanyikan untuknya
Bukan hanya sekedar lagu cinta
Karna ku tak hanya cinta biasa, cintaku istimewa
Alunan suara merdu diiringi petikan gitar selalu mengalun untuk Abel dari seorang Roni, pria satu ini selalu bisa membuat Abel merasa menjadi seorang ratu jika bersama dengannya.
“Cie Abel, merah tu mukanya”
Sherly mendapati Abel yang sedang memperhatikan Roni di atas panggung, wajah Abel berubah menjadi merah merona, apalagi sebelum bernyanyi Roni bilang lagu itu untuk orang yang spesial.
“Ngedip dong Bel, serius amat ngeliatnya”
“Apaan sih, tambah merah ni muka gue”

Terpaan angin di pinggir Musi menerbangkan rambut panjang Abel yang dibiarkannya terurai, Roni sengaja mengajak Abel jalan sore ini, kebetulan nanti malam adalah malam minggu jadi tempat ini ramai oleh anak-anak muda yang akan menikmati malam minggu mereka.
“Abel”
“Iyar Ron, kenapa?”
Roni menyodorkan sebuah undangan berwarna biru muda pada Abel, dengan wajah yang setengah tertutup oleh rambut, gadis di samping Roni itu menerimanya.
“undangan buat aku?”
Roni tak menjawab pertanyaan Abel, ia melemparkan pandangannya lurus ke depan memandangi kapal yang sedang mengapung di atas sungai. Dengan mimik wajah yang menunjukkan kebingungan, Abel perlahan membuka undangan yang sudah ada di genggamannya. Undangan itu jatuh, mata Abel memerah dan sejurus kemudian anak sungai mulai terbentuk di wajah halus gadis ini, kebahagiaan sore ini seketika hilang.
“Kamu gak bohong kan Ron?”
Roni tetap tak bergeming, ia masih memandangi kapal dengan tatapan kosong. Ia bahkan tidak menyadari bahwa gadis di sampingnya ini sedang meneteskan air mata.
“Bukannya kamu bilang cewek waktu itu saudara kamu, kamu udah bohong sama aku Ron!”
“Maaf Bel, aku bisa ngejelasin semuanya”
“Udah, nggak ada yang perlu dijelasin. Undangan ini udah cukup buat ngebuktiin kalo kamu mainin aku”
Nada suara Abel meninggi, Air matanya semakin deras, ia langsung berlari meninggalkan Roni sendiri, ia tidak peduli pada orang-orang di sekitar yang memandanginya. Roni tak bisa lagi mengejar Abel yang sudah berada di dalam taksi, Ia harus pulang ke rumah sekarang, lalu kembali ke Bandung secepatnya, hanya itu yang ada di pikiran gadis ini.
Anak-anak sedang berkumpul di ruang tengah, Abel yang menyadari matanya bengkak langsung masuk ke dalam kamar tanpa menyapa sahabatnya. Mereka yang merasa aneh pada sikap Abel langsung menyusul ke kamar, Abel memalingkan wajahnya saat tau anak-anak masuk ke kamar.
“Are you fine baby?’
“Lo kenapa Bel? cerita dong sama kita”
“Gue mau balik ke Bandung besok, terserah kalian mau ikut apa nggak”
Abel menceritakan semuanya, akhirnya anak-anak pun sepakat untuk pulang ke Bandung besok. Mereka semua kasihan pada Abel, tidak pernah sekalipun ia menangis seperti ini kecuali saat Papa nya meninggal.

Suasana sejuk kota Bandung kembali menenangkan pikiran Abel, ia sudah sedikit lupa pada kejadian beberapa bulan lalu itu. bayangan Roni pun sedikit demi sedikit mulai menghilang, ia sudah memutuskan untuk tidak membuka hatinya dulu untuk siapapun. Kenangan di Kota empek-empek itu sudah cukup membuatnya menangis berhari hari.
Setelah beberapa bulan libur semester dan membuat libur sendiri akhirnya Abel kembali masuk kuliah lagi sebagai seorang Mahasiswi jurusan ekonomi S2 semester akhir, ia ingin cepat-cepat menyelesaikan kuliahnya dan menyandang gelar Master Management.
Dengan mengenakan kaos hijau muda dibalut cardigan putih miliknya, Abel duduk di bawah pohon di taman kampus sambil menikmati minuman kaleng dan beberapa snack yang tadi dibelinya. Gadis manis ini memperhatikan deretan nama yang masuk dalam inbox emailnya lalu matanya tertuju pada satu nama, ia mengklik dan mulai membaca isi pesannya.
From : Roniwahyu20@yahoo.co.id
Abel, sang pemilik senyum manis yang menangis di pinggir Musi senja itu. aku benar-benar minta maaf karena telah membohongimu, sebenarnya banyak yang ingin ku jelaskan tapi kamu sudah terlanjur menghilang dari hadapanku senja itu. asal kamu tau bel, gadis yang akan menikah denganku itu bukan pilihanku, mama yang memilihkannya jadi aku tak bisa menolak. Aku sudah menjatuhkan hatiku padamu sejak pertemuan di bandara waktu itu, aku mencintaimu bel sungguh, Aku harap kamu bisa datang ke pernikahanku nanti. Aku akan sangat bahagia seandainya kamu datang bel!
Pesan yang sepertinya dikirim Roni beberapa bulan lalu itu membuat Abel kembali mengingat kejadian di senja sungai Musi kala itu, ia tersenyum lalu mulai mengetikkan sesuatu di layar laptopnya.
To : Roniwahyu20@yahoo.co.id
Sudahlah Ron tidak perlu disesali, aku sudah memaafkanmu. Maaf aku tidak bisa datang waktu itu karena aku masih ada urusan yang harus aku selesaikan, aku mohon cintai istrimu seperti kamu mencintaiku. Aku ingin kalian menjadi keluarga yang bahagia, rencananya jika kuliahku sudah selesai nanti aku akan berlibur lagi ke Palembang dan aku akan mengunjungi kalian. Maaf baru bisa membalas sekarang, titip salam ya buat istrimu.

Tidak ada komentar :

Posting Komentar