“aku sayang kamu, ku mohon kau selalu ada untukku. Dan Kau tak boleh
mencintai gadis lain selain aku tapi maaf aku tak bisa menjadi milikmu”
kalimat egois yang pernah aku lontarkan kepada pria yang kucintai namun
tak ingin kumiliki jika hanya sebatas kekasih.
Aku menyayanginya tapi aku tak mau berkomitmen dengan menjalin hubungan
layaknya pasangan kekasih yang saling menyayangi dan terikat kata
memiliki.
Tapi aku tak rela jika dia mencintai dan memperhatikan gadis lain selain aku memang itu keegoisanku dan aku mengakui itu.
Saat jam pulang di depan pintu kelas tiba-tiba saja tangan bagas
menarik dan memberhentikan langkah kakiku yang sedang berjalan untuk
pulang. Tanpa basa basi bagas mengatakan perasaannya padaku.
“aku mencintaimu rina dan aku ingin kau menjadi kekasihku” kata-kata
seperti ini yang memang ku harapkan keluar dari mulutnya. Dan sekarang
aku mendengarnya langsung dari mulutnya. Tapi entah kenapa aku menjadi
takut setelah mendengar kata-kata itu. Tuhan. Aku mencintainya tapi aku
takut aku tak bisa menjadi apa yang ia harapkan aku takut jika cinta ini
menjadi benci bagi kami.
“maaf aku tak bisa menjadi milikmu” jawabku
“kenapa?” Matanya menatap mataku penuh tanya
“sebenarnya aku juga mencintaimu, tapi maaf aku tak bisa menjadi milikmu”
“alasannya apa?”
“maaf” satu kata yang kutinggalkan untuknya. Aku pergi berlari meninggalkan pria itu bersama rasa takut dan kecewa atas diriku.
Malam itu rasanya sepi sekali.
Aku berada di tempat belajarku. Tapi bukan untuk belajar melainkan untuk
mencurahkan perasaan hatiku saat ini pada buku mungil yang setia
mendengar suara hatiku setiap hari.
“dear deary”
hari ini harusnya menjadi hari yang membahagiakan untukku. Karena
seseorang yang aku cintai ternyata mempunyai perasaan yang sama
denganku. Tapi ternyata tak seperti yang aku bayangkan. Aku malah
membuatnya kecewa.”
rasa bete pun menyelimutiku.
Ku tengok ponselku, tak ada dari nya menghubungiku. Aku membuka facebook
dan hatiku sakit ketika melihat dia update status di akun nya.
bagas adi:
“mungkin aku harus move on”
oh. Tuhan hati ini seperti patah beribu-ribu keping ketika mengetahui dia akan melupakanku, apa yang harus aku lakukan tuhan?
“selamat malam bagas”
Aku mengirimkan pesan singkat untuknya
ku tunggu balasan darinya tapi tak kunjung ponsel ku berdering pesan masuk.
Mungkin dia marah dan tak mau berteman lagi denganku.
Mataku sudah tak kuat menunggu dan aku pun tertidur di meja belajarku.
Suasana di kelas saat istirahat pun menjadi sepi. Biasanya tiap
istirahat dia mendekatiku. tapi, setelah aku menolaknya ia hanya diam di
tempat duduknya yang berada di depan sebelah kanan tempat dudukku.
Aku hanya termangu melihatnya dan penuh harap ia menghampiriku.
Tapi ia justru asyik memainkan ponselnya entah apa yang sedang ia
lakukan menggunakan ponselnya itu. Yang membuatku tambah kacau kenapa
semalam ia tak membalas pesan singkat ku?.
Aku berjalan mendekatinya dengan harapan bisa memperbaiki pertemananku dengannya
“hai” sapaku ke bagas
“hai juga”
“boleh aku duduk di sebelahmu?”
“silahkan”
“bagas?” aku memanggilnya dengan suara lirih
“iya. Ada apa rin?”
“kamu marah ya sama aku?”
“enggak kok”
“trus kenapa kamu berubah? Nggak kayak biasanya. Pesan ku semalam juga nggak di balas”
“biasa aja kok. Maaf semalam aku udah tidur jadi nggak balas sms kamu”
“oh gitu”
“iya”
Dia pun asyik kembali dengan ponselnya.
“lagi apa sih? Kok kayaknya asyik banget?”
“hehe, lagi chatingan ni”
“sama siapa?”
“ada deh. Mau tau aja nih”
“gas, aku pengen ngomong nih”
“ngomong aja rin” ia lalu memasukkan ponselnya ke saku
“aku sayang kamu, ku mohon kamu selalu ada untuk aku dan kamu tak boleh mencintai gadis lain selain aku tapi…”
“tapi apa rin?”
“tapi aku tak bisa menjadi milikmu?”
“baiklah aku mengerti perasaanmu tapi aku juga tak bisa sepenuhnya mengabulkan permintaanmu”
“aku pengen lebih dari teman untuk mu tapi bukan kekasih mungkin lebih tepatnya teman tapi mesra”
“tapi aku nggak bisa rin. Teman ya tetap teman nggak ada yang namanya
teman tapi mesra. Sekarang kamu pilih salah satu teman atau kekasih?”
aku hanya diam menatap mata bagas dengan penuh harap ia mengerti dan mau mengabulkan permintaanku.
“ayolah rin jawab”
“ttm”
“nggak ada istilah ttm. Teman ya teman kok.”
“taulah”
“ya sudah kalau begitu”
Bagas pun berlalu keluar kelas meninggalkanku sendiri bersama ke delima’anku. Entah apa yang harus ku pilih.
Teet… teet… teet…
Bel masuk pun telah berbunyi anak-anak masuk ke kelas termasuk bagas.
Aku melemparkan kertas bertuliskan “teman” ke mejanya.
Dibaca tulisan dalam kertas itu dan hanya dibalasnya dengan senyuman.
Entah sadar atau tidak aku menulisnya tanpa berfikir panjang.
Dua minggu setelah penolakan itu aku mendengar bahwa bagas sudah
mempunyai kekasih yakni reta anak kelas sebelah. Saat pulang sekolah aku
melihat mereka jalan bareng bergandengan tangan dan sungguh bagas telah
menancapkan kayu besar ke hatiku rasanya sakit sekali. “Terima kasih
gas udah bikin aku ngerasain rasa nyesek ini”
INFO
HAI SEMUA, SELAMAT DATANG DI BLOG SAYA. TOLONG BERI COMMENT BAGI YANG MEMBUKA BLOG INI UNTUK PENILAIAN KOMPUTER SAYA. BAGI YANG MENGCOMMENT BLOG SAYA HARAP MEMBANTU SAYA MEMPROMOSI KAN KE TEMAN2 ANDA. TERIMA KASIH:)
CLOCK
Langganan:
Posting Komentar
(
Atom
)
Tidak ada komentar :
Posting Komentar